POJOKSATU.ID - Tidak pernah saya menyangka bahwa hal yang awalnya hanya saya lakukan sebagai rutinitas membuat konten, bisa membawa saya pada pengalaman yang begitu besar bersama Pojoksatu dan MagangHub.
Dari yang awalnya hanya mencoba-coba, kini saya justru dipercaya untuk membuat konten yang ditonton oleh jutaan orang.
Perjalanan ini bukan hanya tentang angka atau pencapaian, tetapi tentang bagaimana saya belajar memahami proses, menghadapi rasa tidak percaya diri, dan perlahan menemukan cara saya sendiri dalam berkarya di dunia digital.
Awal Mengenal MagangHub dan Pojoksatu
Nama saya Nabillah Syahla Ummah.
Sejak awal, saya memiliki ketertarikan di dunia media, khususnya dalam pembuatan konten digital.
Saya senang membuat video, menulis naskah, dan mencoba berbagai konsep konten yang sedang berkembang.
Ketika mengetahui Program Magang Nasional melalui MagangHub, saya merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk belajar lebih dalam di lingkungan profesional.
Baca Juga: Bertumbuh di Balik Layar Sebagai Media Social Specialist di PT Pojoksatu Indonesia
Sebelum mendaftar, saya juga mencari tahu tentang PT Pojoksatu Indonesia melalui website dan media sosial mereka.
Dari situ saya memahami bahwa Pojoksatu merupakan platform media digital yang memproduksi berbagai konten berita.
Hal ini membuat saya semakin tertarik karena sesuai dengan minat saya di bidang media dan content creation.
Proses Seleksi dan Penempatan yang Tidak Terduga
Saat pertama kali masuk, saya tidak langsung ditempatkan pada satu posisi tertentu.
Baca Juga: Sidang GTC Memanas, Kuasa Hukum Tergugat Baru Hadirkan 127 Bukti
Di minggu awal, saya justru menjalani proses penilaian untuk melihat kemampuan dan kecocokan saya.
Saya diberikan beberapa tugas untuk melihat bagaimana cara saya membuat konten. Dari situ, mentor mulai menilai potensi saya.
Karena sebelumnya saya pernah memiliki pengalaman membuat konten terkait film, akhirnya saya ditempatkan di Pojok Seleb, bagian dari Pojoksatu yang fokus pada berita selebriti.
Baca Juga: Bertumbuh di Balik Layar Sebagai Media Social Specialist di PT Pojoksatu Indonesia
Di tahap ini, saya mulai merasakan bahwa dunia kerja tidak sesederhana yang saya bayangkan.
Saya harus beradaptasi dengan cepat, memahami ritme kerja, dan mulai membiasakan diri dengan standar yang lebih profesional.
Tantangan Adaptasi yang Tidak Mudah
Masa adaptasi menjadi fase yang paling menantang bagi saya.
Baca Juga: Bertumbuh di Balik Layar Sebagai Media Social Specialist di PT Pojoksatu Indonesia
Saya tidak hanya belajar hal baru, tetapi juga harus menyesuaikan diri dengan sistem kerja yang berbeda dari sebelumnya.
Saya sempat merasa bingung dengan workflow yang ada.
Mulai dari bagaimana menentukan angle konten, melakukan riset, menulis naskah yang tepat, hingga menyesuaikan durasi video agar tetap padat dalam waktu singkat.
Baca Juga: Bertumbuh di Balik Layar Sebagai Media Social Specialist di PT Pojoksatu Indonesia
Tidak jarang saya merasa overthinking karena takut hasil konten saya tidak sesuai ekspektasi.
Bahkan, beberapa kali saya mengalami keterlambatan dalam mengumpulkan tugas karena masih mencoba memahami alur kerja.
Namun, di tengah proses itu, mentor saya selalu memberikan dukungan.
Ia tidak pernah membuat saya merasa gagal, justru membantu saya mencari solusi dari setiap kesulitan yang saya hadapi.
Hal itu membuat saya merasa lebih nyaman untuk belajar dan berkembang tanpa tekanan berlebihan.
Kepercayaan Membuat Konten Talkfluence
Seiring berjalannya waktu, saya mendapatkan kepercayaan yang cukup besar.
Baca Juga: Bertumbuh di Balik Layar Sebagai Media Social Specialist di PT Pojoksatu Indonesia
Sebagai anak magang yang sudah lulus kuliah, mentor saya tidak ingin saya hanya membuat konten sederhana seperti carousel.
Saya justru diarahkan untuk membuat Talkfluence, yaitu konten video dengan voice over yang membahas suatu topik dari berbagai sudut pandang.
Konten ini menuntut saya untuk tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengolahnya menjadi sesuatu yang menarik dan memiliki nilai.
Tidak hanya membahas isu viral, tetapi juga konten evergreen yang tetap relevan dalam jangka panjang.
Kepercayaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena saya harus keluar dari zona nyaman.
Struggle di Awal dan Dukungan dari Mentor
Dalam prosesnya, saya menghadapi banyak kesulitan. Salah satunya adalah saat membuat voice over.
Saya harus mengulang rekaman berkali-kali agar terdengar natural dan sesuai dengan durasi yang ditentukan.
Selain itu, proses editing juga cukup menguras energi.
Saya harus menyesuaikan visual dengan naskah, mencari footage yang relevan, dan memastikan alur konten tetap menarik. Terkadang, saya merasa hasil yang saya buat belum maksimal.
Namun setiap kali saya merasa stuck, mentor saya selalu memberikan masukan yang membangun.
Kami sering berdiskusi bersama untuk mencari solusi. Dari situ saya belajar bahwa proses kreatif tidak selalu berjalan mulus, tetapi selalu ada cara untuk memperbaikinya.
Momen FYP yang Mengubah Cara Pandang Saya
Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika di minggu awal, salah satu konten saya tiba-tiba mendapatkan performa yang tinggi.
Konten tersebut masuk FYP dan mendapatkan jutaan views. Mentor saya langsung mengirim pesan di grup WhatsApp, “Syahla, kontenmu FYP, keren banget.”
Tidak lama setelah itu, salah satu konten saya bahkan menembus 38 juta views dan menjadi konten dengan performa tertinggi.
Konten tersebut juga di-pin di akun TikTok Pojok Seleb.
Momen itu benar-benar membuat saya merasa bangga. Saya tidak pernah membayangkan bahwa suara dan konten yang saya buat bisa didengar oleh puluhan juta orang.
Belajar Memahami Audiens dan Value Konten
Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa konten yang berhasil bukan hanya soal tren, tetapi soal isi.
Mentor saya pernah mengatakan bahwa konten saya memiliki value. Dari situ saya mulai belajar untuk lebih memahami audiens.
Saya mulai berpikir tentang apa yang ingin diketahui penonton, bagaimana cara menyampaikan informasi dengan cara yang relatable, dan bagaimana membuat konten yang tidak hanya ditonton, tetapi juga bermakna.
Hal ini mengubah cara saya dalam membuat konten. Saya menjadi lebih sadar bahwa setiap konten memiliki tanggung jawab.
Proses Belajar yang Tidak Instan
Selain memahami audiens, saya juga belajar banyak hal secara teknis. Voice over menjadi salah satu tantangan terbesar.
Saya harus mengulang berkali-kali agar hasilnya terdengar natural dan sesuai durasi.
Editing juga menjadi proses yang cukup sulit di awal.
Namun, dengan bimbingan mentor, saya mulai memahami bagaimana menyusun visual yang mendukung storytelling.
Seiring waktu, workflow yang sebelumnya terasa membingungkan mulai menjadi lebih terarah.
Refleksi dan Harapan Saya ke Depan
Mengikuti Program Magang Nasional MagangHub di PT Pojoksatu Indonesia memberikan pengalaman yang sangat berarti bagi saya.
Saya belajar bahwa proses tidak selalu mudah, tetapi selalu ada ruang untuk berkembang. Saya juga belajar bahwa memiliki mentor yang suportif adalah hal yang sangat berharga.
Ke depannya, saya ingin terus mengembangkan kemampuan saya sebagai content creator, terutama dalam memahami audiens dan menciptakan konten yang memiliki makna.
Bagi saya, pencapaian seperti FYP atau jutaan views memang membanggakan.
Namun yang lebih penting adalah bagaimana saya bisa terus berkembang dan konsisten dalam berkarya.
Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang bagaimana saya menemukan kepercayaan diri dan arah dalam hidup saya.***

