POJOKSATU.ID - Program aksi pendidikan kesetaraan bagi narapidana dan anak binaan terus menunjukkan hasil nyata.
Melalui skema pembinaan berbasis pendidikan, sejumlah warga binaan lembaga pemasyarakatan (lapas) kini berhasil meraih ijazah pendidikan tinggi, bahkan menyandang gelar diploma dan sarjana.
Salah satu contoh keberhasilan program ini terlihat di wilayah Purwokerto.
Tercatat sebanyak 13 warga binaan lapas di daerah tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang diploma dan sarjana.
Baca Juga: DPR RI Pastikan Layanan Kesehatan Aman 3 Bulan ke Depan, Iuran PBI Tetap Dibayar Pemerintah
Capaian ini menjadi bukti bahwa pendidikan mampu menjadi jalan perubahan, bahkan bagi mereka yang tengah menjalani masa pidana.
Program pendidikan kesetaraan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi, tanpa diskriminasi.
Narapidana dan anak binaan diberikan akses mengikuti pendidikan formal maupun nonformal, mulai dari paket A, B, C, hingga pendidikan tinggi melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.
Kepala lapas setempat menjelaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kesiapan warga binaan saat kembali ke masyarakat.
Baca Juga: Pelaku Pemukulan Ojol Kembangan Ternyata Oknum Kapten CPM TNI, Komandan Paspampres Beri Penjelasan
Pendidikan dipandang sebagai bekal utama agar mereka dapat hidup mandiri dan produktif setelah bebas.
“Tujuan utama kami adalah reintegrasi sosial. Dengan pendidikan, warga binaan memiliki peluang lebih besar untuk diterima kembali oleh masyarakat,” ujarnya.
Di Purwokerto, program ini berjalan melalui kolaborasi antara lapas, dinas pendidikan, serta institusi perguruan tinggi.
Proses pembelajaran dilakukan dengan sistem yang disesuaikan dengan kondisi lapas, tanpa mengurangi kualitas akademik.
Warga binaan tetap mengikuti kurikulum, ujian, hingga tugas akhir sebagaimana mahasiswa pada umumnya.
Keberhasilan 13 warga binaan meraih gelar diploma dan sarjana menjadi inspirasi bagi peserta lainnya.
Banyak dari mereka yang sebelumnya putus sekolah, kini memiliki kembali harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Baca Juga: Di Tengah Gempuran Buzzer Pemerintah, Pers Jadi Benteng Terakhir Demokrasi
Salah satu warga binaan yang lulus sarjana mengaku tidak pernah membayangkan bisa menempuh pendidikan tinggi di dalam lapas.
Menurutnya, program pendidikan kesetaraan telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dan tanggung jawab sebagai individu.
Program ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena dinilai sejalan dengan tujuan pemasyarakatan modern, yakni pembinaan, bukan sekadar penghukuman.
Pendidikan dianggap sebagai instrumen efektif untuk menekan angka residivisme dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga: Seluruh Pihak Turun Tangan! Operasi Bersih Digelar Usai Sungai di Ciampea Dipenuhi Sampah
Pemerintah menegaskan bahwa program pendidikan bagi warga binaan akan terus diperluas ke berbagai daerah.
Selain pendidikan akademik, lapas juga didorong menyediakan pelatihan vokasi agar warga binaan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Ke depan, diharapkan semakin banyak warga binaan yang mampu menuntaskan pendidikan hingga jenjang tinggi.
Keberhasilan di Purwokerto menjadi contoh bahwa keterbatasan ruang dan status tidak seharusnya menjadi penghalang untuk belajar dan berubah.
Melalui pendidikan kesetaraan, lapas tidak lagi hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembelajaran untuk menciptakan individu yang lebih baik dan siap kembali ke tengah masyarakat.***

