POJOKSATU.ID - Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan bahwa stok daging sapi nasional dalam kondisi melimpah.
Berdasarkan laporan per 6 Januari, Indonesia mengalami surplus sekitar 6,3 ribu ton daging sapi untuk periode Januari hingga Maret.
Secara logika, kondisi ini seharusnya membuat harga daging sapi stabil, bahkan cenderung turun.
Namun kenyataannya, setiap memasuki Ramadan dan Lebaran, harga daging sapi hampir selalu melonjak.
Baca Juga: Dari Rp51 T Kini Rp74 T, Anggaran Pemulihan Sumatera Melejit! Pemerintah Ungkap Alasannya
Fenomena ini kembali memunculkan pertanyaan publik mengapa harga daging sapi tetap naik meski stok dinyatakan aman dan surplus?
Lonjakan Permintaan Musiman
Salah satu faktor utama adalah lonjakan permintaan yang sangat tinggi menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Konsumsi daging sapi meningkat tajam karena kebutuhan rumah tangga, tradisi memasak hidangan khas Lebaran, hingga permintaan industri kuliner dan UMKM makanan.
Dalam periode singkat, permintaan bisa melonjak drastis, sementara distribusi stok tidak selalu mampu menyesuaikan kecepatan kenaikan kebutuhan di lapangan.
Baca Juga: Cara Melakukan SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara, Bisa Dilakukan Sendiri di Rumah
Distribusi Tidak Merata
Meski stok nasional surplus, sebaran daging sapi tidak merata di setiap daerah.
Sentra produksi daging sapi terkonsentrasi di wilayah tertentu, sementara daerah lain sangat bergantung pada pasokan dari luar.
Hambatan distribusi seperti keterbatasan transportasi, biaya logistik tinggi, serta waktu pengiriman yang panjang menyebabkan harga di tingkat konsumen ikut terdongkrak, terutama di wilayah non-produsen.
Rantai Pasok yang Panjang
Harga daging sapi juga dipengaruhi oleh rantai pasok yang panjang, mulai dari peternak, pedagang pengumpul, rumah potong hewan (RPH), distributor, hingga pedagang pasar.
Setiap mata rantai menambahkan margin keuntungan, sehingga meskipun harga di tingkat peternak relatif stabil, harga di pasar tetap naik.
Kondisi ini kerap dimanfaatkan oleh spekulan yang menahan stok sementara waktu untuk mengambil keuntungan dari momentum tingginya permintaan.
Biaya Produksi dan Pakan
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kenaikan biaya produksi, terutama harga pakan ternak, obat-obatan, serta biaya perawatan sapi.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Bogor Akhirnya Running! Ini Jadwal Cair dan Besarannya
Peternak menghadapi tekanan biaya yang tinggi, sehingga harga jual sapi hidup cenderung disesuaikan, terutama menjelang periode konsumsi puncak.
Psikologi Pasar dan Ekspektasi Harga
Setiap menjelang Ramadan dan Lebaran, pasar sudah memiliki ekspektasi bahwa harga daging akan naik.
Psikologi ini membuat pedagang menaikkan harga lebih awal, meskipun stok sebenarnya tersedia. Akibatnya, kenaikan harga menjadi seperti siklus tahunan yang berulang.
Pemerintah melalui Bapanas dan kementerian terkait terus melakukan berbagai langkah, mulai dari operasi pasar, penguatan distribusi, hingga pengawasan harga di pasar tradisional.
Baca Juga: Minta Keadilan untuk Guru Honorer dan Nakes, PGRI Kapuas Hulu Tolak Pegawai SPPG Jadi PPPK
Namun tanpa perbaikan sistem distribusi dan pengendalian rantai pasok, lonjakan harga musiman masih sulit dihindari.
Surplus stok daging sapi nasional tidak otomatis menjamin harga tetap stabil.
Lonjakan permintaan, distribusi yang tidak merata, panjangnya rantai pasok, hingga psikologi pasar menjadi penyebab utama harga daging sapi tetap naik saat Ramadan dan Lebaran.***

