POJOKSATU.ID - Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI masih menjadi primadona bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.
Di tengah banyaknya pilihan pembiayaan perbankan, KUR BRI kerap dibandingkan dengan kredit komersial yang ditawarkan bank-bank konvensional.
Hasilnya, mayoritas UMKM tetap menjatuhkan pilihan pada KUR.
Perbedaan paling mencolok antara KUR BRI dan kredit komersial terletak pada tingkat suku bunga.
Baca Juga: Kemnaker lewat MagangHub Gelar Webinar Soft Skill, Bangun Pola Pikir Inovatif Peserta Magang
KUR merupakan program pembiayaan bersubsidi pemerintah dengan bunga jauh lebih rendah dibanding kredit komersial.
Bagi UMKM yang baru berkembang, selisih bunga ini sangat menentukan keberlangsungan usaha, terutama dalam menjaga arus kas tetap sehat.
Selain bunga, skema cicilan KUR BRI dinilai lebih ramah bagi pelaku usaha kecil.
Tenor yang fleksibel memungkinkan UMKM menyesuaikan pembayaran dengan perputaran modal usaha.
Baca Juga: Diskon Listrik 2026 Ramai Diperbincangkan, Ini Klarifikasi Resmi Pemerintah dan PLN
Berbeda dengan kredit komersial yang umumnya memiliki bunga fluktuatif dan cicilan lebih besar, KUR memberi rasa aman karena beban angsuran relatif stabil.
Dari sisi persyaratan, KUR BRI juga lebih mudah diakses.
UMKM tidak selalu dituntut memiliki agunan besar, terutama untuk plafon tertentu.
Hal ini berbeda dengan kredit komersial yang cenderung mensyaratkan jaminan bernilai tinggi serta riwayat keuangan yang lebih kompleks.
Bagi pelaku usaha mikro, kemudahan ini menjadi pintu masuk penting untuk memperoleh modal.
Faktor lain yang membuat KUR BRI unggul adalah orientasi kebijakan.
KUR dirancang khusus untuk mendorong pertumbuhan sektor produktif dan memperkuat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Baca Juga: Hashim Adik Prabowo Bantu Rp250 Juta Panti Werdha Damai Manado yang Baru Saja Terbakar
Pendekatan ini membuat proses penilaian lebih mempertimbangkan kelayakan usaha dibanding semata-mata aset yang dimiliki debitur.
Sementara itu, kredit komersial biasanya lebih cocok bagi usaha yang sudah mapan dan membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar dengan struktur keuangan yang stabil.
Untuk UMKM pemula, risiko kredit komersial justru bisa menjadi beban, terutama ketika omzet belum konsisten.
Dari pengalaman di lapangan, banyak pelaku UMKM mengaku KUR BRI membantu mereka naik kelas.
Baca Juga: Penting! Siswa Pendaftar SNBP Wajib Punya KIP Kuliah Sejak Awal, Ini Alasannya
Modal yang diperoleh digunakan untuk menambah stok, membeli peralatan produksi, hingga memperluas jaringan pemasaran.
Dampaknya tidak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja di daerah.
Meski demikian, pelaku usaha tetap diimbau memahami karakteristik masing-masing produk kredit.
KUR BRI memang lebih ringan, namun tetap membutuhkan perencanaan usaha yang matang agar pinjaman dapat dimanfaatkan secara optimal dan tepat sasaran.
Ke depan, selama KUR BRI masih disalurkan dengan bunga kompetitif dan persyaratan inklusif, program ini diprediksi tetap menjadi pilihan utama UMKM dibanding kredit komersial.
Bagi pelaku usaha kecil, KUR bukan sekadar pinjaman, melainkan alat bertahan dan bertumbuh di tengah dinamika ekonomi.***

