POJOKSATU.ID - Aksi distribusi bantuan untuk korban bencana di Sumatra melalui udara kembali jadi sorotan.

Setelah sejumlah warga terekam memunguti beras dari tanah berceceran karena bungkus bantuan pecah saat dijatuhkan dari helikopter.

Video viral ini memicu kecaman dan mendorong sejumlah tokoh untuk mendesak evaluasi bagaimana bisa bantuan penting justru rusak saat sampai ke tangan warga terdampak? 

Insiden terjadi saat distribusi logistik oleh TNI via udara ke wilayah terisolasi akibat banjir dan longsor.

Baca Juga: Relawan Gerakan Anak Negeri Bogor Kirim Bantuan Kantong Jenazah untuk Basarnas Batang Toru sebagai Wujud Solidaritas Antar Daerah

Karena helikopter disebut tak bisa mendarat di lokasi antara lain karena ada kabel listrik yang membentang pilot memutuskan untuk drop bantuan dari udara. 

Akibat metode tersebut, bungkus bantuan termasuk beras pecah saat jatuh atau menyentuh tanah.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga mengais butiran beras bercampur tanah di tanah basah.

Pimpinan TNI dan instansi terkait mengakui bahwa distribusi lewat udara memang solusi darurat ketika kawasan benar-benar terisolir. 

Baca Juga: Pelanggan Baru Internet Rakyat? Tidak Usah Beli Router Semua Sudah Disediakan Gratis!

Namun akibat rusaknya bantuan, muncul dorongan agar metode airdrop dievaluasi salah satunya dari Puan Maharani, Ketua DPR RI.

Menilai cara tersebut kurang efektif dan kurang layak jika hasilnya tak bisa dimanfaatkan korban. 

Menurut juru bicara militer, metode akan diperbaiki bungkus logistik dibuat lebih kuat.

Penurunan dilakukan dengan tali sling, dan ketinggian heli saat drop dikurangi agar dampak pada barang bisa diperlembut. (detiknews5)

Poin penting yang bisa diambil dari kejadian ini:

Metode distribusi lewat udara memang kadang tak terelakkan jika akses darat benar-benar putus.

Namun metode darurat tersebut tetap harus mempertimbangkan keselamatan dan efektivitas bantuan.

Evaluasi dan perbaikan prosedur seperti menggunakan sling atau kontainer pengaman, menyesuaikan ketinggian drop.

Atau bahkan membangun helipad/poin pendaratan darat menjadi penting agar bantuan tiba dalam kondisi layak.

Baca Juga: Sudah Daftar Internet Rakyat Tapi Belum Dipasang Teknisi? Begini Cara Agar Koneksi Cepat Nyala!

Transparansi dan akuntabilitas pada distribusi penting korban bencana tak seharusnya menerima bantuan dalam kondisi rusak atau bahkan tak bisa dikonsumsi.

Video warga mengais beras pecah menjadi viral di media sosial dan mendapat perhatian luas menunjukkan bahwa rakyat menuntut bukan sekadar ada bantuan.

Tapi bantuan yang layak dan bisa dimanfaatkan.

Banyak yang mempertanyakan: apa gunanya logistik kalau rusak saat sampai? 

Baca Juga: Bupati Bogor Kirim Tiga Mobil Angkutan Sekolah untuk Warga Pelosok Nirmala Malasari

Kasus ini memicu perdebatan di publik antara urgensi distribusi segera lewat udara, dan kewajiban memastikan kualitas bantuan sampai kepada warga.

Banyak menilai bahwa metode drop seadanya seperti ini justru memperburuk situasi bantuan tersia-sia, dan rasa kepercayaan terhadap penyaluran bantuan bisa menurun.

Sebelum drop, pastikan bungkus logistik aman untuk airdrop gunakan kontainer/kardus kuat, bungkus anti pecah, atau tambahan pelindung (misalnya material peredam kejut).

Jika memungkinkan prioritaskan distribusi darat atau air (perahu), atau bangun helipad sementara; jangan langsung lempar dari udara jika dikhawatirkan rusak.

Baca Juga: Corporate Training Dibimbing: Ubah Biaya Pelatihan Karyawan Menjadi Investasi dengan ROI Terukur untuk Perusahaan

Libatkan komunitas/relawan setempat untuk membantu distribusi agar lebih presisi dan bantuan tak hancur.

Publikasikan prosedur distribusi secara transparan agar masyarakat tahu bagaimana bantuan disalurkan, dan jika terjadi kerusakan ada mekanisme komplain dan kompensasi.***