POJOKSATU.id - Seorang wanita asal Nganjuk bernama Jelsi Natosa memilih jalan ninja di usia muda dengan keluar dari zona nyaman yang telah membuat hidupnya mapan.

Wanita yang kini berusia 26 tahun ini memutuskan merantau ke Surabaya untuk bekerja jadi pegawai dengan gaji UMR setelah lulus SMK.

Jelsi tak merasakan duduk di bangku kuliah, ia merupakan lulusan SMK Multimedia di Nganjuk pada tahun 2017 lalu.

Baca Juga: Festival Pramuka Bandung Utama 2025 Tutup Meriah, Teguhkan Nilai Karakter Generasi Muda

Di Surabaya, ia bekerja di sebuah bioskop dengan gaji UMR, upah tersebut tak hanya membuatnya bisa bertahan hidup tapi juga menabung.

Setelah 5 tahun bekerja sebagai karyawan bergaji UMR, ia memutuskan resign dan pulang ke kampung halamannya.

Bukan hanya rasa rindu yang membuatnya pulang, tapi ada impian yang harus diwujudkan di tanah kelahirannya.

Baca Juga: Tingkatkan Produktivitas dan Keuntungan Berkelanjutan, Kementan Dorong Penyuluh Adopsi Inovasi Budidaya Padi

Ternyata sejak awal merantau, ia sudah berniat untuk menjadi petani dan bekerja di Surabaya merupakan caranya untuk mengumpulkan modal.

Niat menjadi petani didasari dengan kondisi perusahaan di negeri ini yang biasanya tak menerima pelamar berusia 30 tahun.

Selain itu, regenerasi petani di kampung halamannya juga tidak berjalan, hampir semua petani berusia tua.

Baca Juga: Jabar Siapkan Beasiswa Dokter Spesialis, Wajib Kembali Mengabdi ke Daerah

Hanya bermodal pengetahuan dari orang tua dan modal tabungannya, ia memulai impiannya pada tahun 2022 lalu.

Jelsi fokus bertani bawang merah, butuh modal sampai miliaran rupiah yang dikumpulkan dalam 5 tahun untuk membeli lahan dan bibit.

Dalam setahun, ia mengaku bisa mengantongi omzet hingga ratusan juta rupiah dengan 5 kali panen bawang merah.

Baca Juga: Kamu Kesulitan Belajar Matematika? Berikut Empat Rekomendasi Tempat Les Popular, Dijamin Lebih Mudah Paham!

Sebagai generasi muda yang melek teknologi, ia memanfaatkan media sosial untuk berjualan bawang merah saat harganya turun.

Pada tahun 2024 lalu, Jelsi sudah bisa memiliki lahan sendiri seluas 2.000 meter persegi dan sebagian merupakan tanah garapan atau sewa.

Setelah 3 tahun jadi petani di Nganjuk, kini Jelsi memiliki sejumlah pegawai untuk mengurus tanaman bawang merah.

Di bulan Agustus tahun ini, lahan seluas 150 tumbak di Nganjuk yang biasanya menghasilkan keuntungan Rp50 juta dalam 2 bulan, kini melonjak 3 kali lipat, seiring harga bawang merah yang naik.***