POJOKSATU.id - Perekonomian global tengah terguncang usai pemerintah Amerika Serikat pekan lalu mengumumkan penerapan kenaikan tarif impor resiprokal terhadap hampir semua negara di dunia.

Namun informasi terbaru kebijakan ini ditunda selama 90 hari menyusul imbas gejolak pasar global yang terjadi.

Lantas, apa yang bisa pemerintah Indonesia lakukan di tengah perubahan peta perekonomian global ini?

Dikutip dari Antara, tarif resiprokal dapat diartikan sebagai kebijakan tarif timbal balik.

Dalam artian, kebijakan ini merujuk pada kondisi dimana suatu negara yang menetapkan tarif impor terhadap barang dari negara lain dengan tingkat yang sama seperti tarif yang dikenakan oleh negara tersebut pada barang ekspornya.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan sejumlah negara termasuk Cina semakin menegangkan.

Baca Juga: Korban Bertambah! Bukan Hanya Keluarga, Dua Pasien Lain Ternyata Juga Pernah Dicabuli Priguna Anugerah di RSHS

Dalam menghadapi perang dagang ini, Indonesia lebih memilih jalur negosiasi atau diplomasi.

Aksi saling balas soal tarif impor antara Amerika Serikat dan Cina hingga saat ini masih terus berlanjut.

Minggu lalu Trump mengumumkan semua barang Cina yang diimpor ke Amerika Serikat dikenakan tarif tambahan 34% setelah di awal tahun lalu sudah dikenakan tarif 20%.

Cina yang tak terima kemudian membalas dengan menerapkan tarif 34% untuk barang-barang Amerika Serikat berlaku per 1 April 2025.

Trump kembali membalas dengan mengenakan tarif tambahan 50%. Jika keputusan ini diterapkan, maka tarif barang impor Cina di Amerika akan menjadi 104%.

Bukan hanya Cina, tambahan tarif impor juga disiapkan oleh negara lain sebagai balasan atas tarif impor yang dikenakan oleh Trump.

Misalnya saja Kanada dan negara-negara di Uni-Eropa telah menyiapkan tarif balasan yaitu tambahan 25% untuk sejumlah produk asal Amerika Serikat.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Menteri-menteri Presiden Prabowo mengungkapkan, kalau Indonesia akan memilih jalur diplomasi atau negosiasi.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono.

"Sudah mengeluarkan rumusan bersama ya. Tanggapan pemerintah Republik Indonesia yang kurang lebih isinya yang pertama adalah mempelajari, kita akan menghitung dampak dari penerapan tarif tersebut di masing-masing industri," terang Sugiono

"Kemudian tentu saja kita melakukan akan melakukan negosiasi," lanjutnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyampaikan kepada Presiden Prabowo, pihak kedutaan sudah bicara dengan USTR terkait negosiasi ini.

"Pak Presiden kami laporkan surat Indonesia sudah dikirim dan sudah diterima oleh Amerika melalui Duta Besar Indonesia dan hari ini juga Duta Besar Amerika meminta waktu untuk pembicaraan lanjutan," jelas Airlangga Hartanto.

Saat ini, penerapan tarif impor Trump ke berbagai negara imbasnya adalah mengubah peta kondisi perekonomian global secara masif.

Berbagai negara pun berupaya untuk mengambil langkah menghadapi kondisi perekonomian global saat ini.***