POJOKSATU.id - Belakangan ini, kasus kematian Mirna Salihin karena sianida kembali menjadi sorotan publik. 

Kejanggalan meninggalnya Mirna Salihin pun mulai terungkap.

Diketahui pada tahun 2016 pihak keluarga Mirna Salihin, menolak putrinya untuk diautopsi pihak kepolisian.

Mereka hanya mengizinkan untuk mengambil sampel yang berupa isi lambung, darah, hati, dan urine dari tubuh Mirna.

Dari hasil pemeriksaan ditemukan, adanya sianida sebanyak 0,2mg/liter dari sampel lambung Mirna. 

Baca Juga: Diserang Warganet atas Kasus Kematian Mirna Salihin, Aktor Krisna Mukti: Lo Salah Orang, Bukan Gue

Dr. Djaja Surya Atmadja, salah satu dokter yang menangani kasus ini kembali angkat bicara di sebuah podcast.

Dalam video yang di unggah dalam podcast dr. Richard Lee di Youtube, dr. Djaja Surya Atmadja mengungkapkan kebenarannya.

Dr. Djaja Surya Atmadja menjelaskan bahwa saat di rumah duka, ia adalah satu-satunya dokter yang melakukan pengawetan. 

Ia pertama kali melihat jenazah Mirna yang meninggal setelah minum kopi dalam waktu dua jam setelah kematian. 

Dr. Djaja Surya Atmadja menjelaskan bahwa dalam bidang forensik, ketika kematian tampaknya tidak wajar, otopsi harus dilakukan.

Tanpa proses ini, penyebab kematian seseorang tidak dapat ditentukan. 

Saat itu, ia berbicara dengan ayah Mirna yang awalnya menolak otopsi. Dan pada akhirnya, dr. Djaja Surya Atmadja hanya mengawetkan tubuh Mirna dengan formalin.

Baca Juga: Viral Surat Jessica Wongso yang Ditulis Didalam Penjara: Aku Baik-baik Aja Kok si Sini

Namun, beberapa hari kemudian, keluarga tiba-tiba mengizinkan otopsi, tetapi hanya sampel yang diambil dari lambung, jaringan hati, darah, dan urin. 

Setelah dilakukan pemeriksaan, dr. Djaja hanya menemukan adanya 0,2 mg/liter sianida di lambung.

Dijelaskan bahwa jumlah tersebut tidak cukup untuk menyebabkan kematian seseorang. 

"Yang diambil tadi darah, hati, isi lambung dan urin. Semuanya negatif sianda. Kecuali lambung ada positif sianida 0,2mg per liter. 0,2 itu kecil banget. Logikanya kalau ada sianida besar jadi kecil itu mungkin.

Tapi kalau tidak ada jadi ada itukan tanda tanya. Bisa saja karena pembusukan, pembusukan bisa sebabkan adanya sianida walaupun kecil," jelas dr. Djaja Surya Atmadja.

Baca Juga: Reza Indragiri: Psikolog Forensik di Balik Kasus Kontroversial Kopi Sianida Jessica Wongso

Dr. Djaja Surya Atmadja juga menjelaskan bahwa sianida itu bisa menyebabkan seseorang meninggal ketika masuk ke dalam darah, bukan ke lambung.

"Dari lambung masuk ke darah kita tau pembuluh darah masuknya ke hati. Nah di hati, tubuh kita punya mekanisme detoksifikasi.

Dirubah CN- (sianida) ditambah S (tiosianad) dalam tubuh kita menjadi CNS itu tiosianad.

Maka salah satu tanda bahwa dia kemasukan sianida adalah ada tiosianad dalam hati, darah dan urin. Kalau diperiksa di liur ada, nah itu tidak ada," ungkapnya.

Dari pemeriksaan tersebut terbukti bahwa Mirna Salihin bukanlah meninggal karena sianida.***