POJOKSATU.id - Kasus mutilasi mahasiswa UMY Redho Tri Agustian yang dilakukan Waliyin dan RD, hingga kini masih belum terungkap sepenuhnya.

Di sisi lain, Polda DIJ juga sudah menangkap kedua pelaku di Bogor, dalam pelariannya.

Usai ditangkap, Waliyin dan RD langsung dihadirkan dalam konferensi pers awal.

Akan tetapi saat itu tidak cukup banyak informasi yang disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes FX Endriadi.

Baca Juga: Bawa Ganja di Koper saat Liburan di Pulau Cayman, Supermodel Gigi Hadid Ditangkap

Terbaru, polisi kembali membuat pernyataan baru terkait motif mutilasi mahasiswa UMY itu.

Disebutkan ada aktivitas tidak wajar yang dilakukan korban dengan kedua pelaku.

Lagi-lagi, tidak ada penjelasan secara detil soal 'aktivitas tidak wajar' yang diungkap Endriadi itu.

Baca Juga: Kejati Diminta Jangan Peti Eskan Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan Di Purwakarta, Buka Ke Publik Hasilnya Gimana

Lalu apa sebenarnya 'akivitas tidak wajar' yang jadi awal mula mutilasi yang menghebohkan publik itu?

 

Sebuah komunitas

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes FX Endriadi mengungkap, mutilasi mahasiswa UMY itu bermula dari perkenalan ketiganya.

Disebutkan bahwa ketiganya merupakan anggota sebuah komunitas yang memiliki grup media sosial Facebook.

Baca Juga: Budyanto Jauhari Ngaku Khilaf soalnya Habis Nyabu, Pakai Ngancam Bunuh tapi Masih juga Bikin Pembelaan

Karena sama-sama menjadi anggota komunitas tersebut, Redho, Waliyin dan RD akhirnya kerap berinteraksi.

Dari interaksi yang intens itu kemudian membuat ketiganya saling berkenalan.

Perkenalan antara Redho, Waliyin dan RD itu terjadi sekitar 3 bulan sebelum kejadian.

Baca Juga: Durian Baret

Dari komunikasi itens dan perkenalan itu, ketiganya lantas sepakat untuk melakukan pertemuan alias kopi darat.

Hal itu dimulai oleh Waliyin yang mengundang RD datang ke Jogjakarta.

Undangan itu lantas disanggupi RD yang merupakan warga DKI Jakarta.

Baca Juga: Anjal-Gepeng di Kota Serang Sulit Dihilangkan, Toyalis: Memang Mentalnya Seperti Itu

Tujuan dari undangan Waliyin ke Jogjakarta itu tidak lain adalah juga untuk bertemu dengan Redho.

Setibanya di Jogjakarta, RD langsung dijemput oleh Waliyin.

RD kemudian diajak menginap di tempat kos Waliyin di Dusun Krapyak, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman.

 

Hari Terakhir Redho

Rupanya, kedatangan RD itu juga sudah diketahui oleh Redho.

Baca Juga: Mengaku Cocok, Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko Pertemuan Tertutup 2 Jam dengan Prabowo

Mahasiswa UMY asal Pangkalpinang itu lantas menyusul ke tempat kos Waliyin.

Tepatnya yakni pada Selasa 11 Juli 2023 dini hari.

Hari itu adalah hari dimana Redho Tri Agustian terakhir kali terlihat.

Baca Juga: Jadwal Korea Open 2023 Hari Ini 19 Juli: 5 Wakil Indonesia Unjuk Gigi

Yakni melalui kamera CCTV di tempat kosnya, di Kasihan, Bantul.

Saat itu, Redho terlihat meninggalkan tempat kos-nya dengan mengenakan kaos dan celana pendek.

Redho juga hanya membawa HP dan charger.

Baca Juga: Ini Hasil Visum Tiara Maharani Usai Dianiaya Budyanto Djauhari yang dalam Pengaruh Sabu

Akan tetapi sejak saat itu, Redho ternyata tidak pernah kembali.

Sementara telepon selulernya juga sudah sama sekali tidak bisa dihubungi.

Hal itulah yang membuat keluarga khawatir karena tidak biasa Redho tidak bisa dihubungi.

Baca Juga: Soal Korban Penipuan Cek Kosong, Begini Sekarang Perkembangan Berkas Perkaranya

Padahal, setiap hari Redho selalu berkomunikasi dengan ibunya di Pangkalpinang.

Dalam komunikasi terakhir, keluarga juga tidak mendapati adanya kejanggalan atau hal mencurigakan lainnya.

Karena itu, 2 hari kemudian, pihak keluarga Redho dari Jogjakarta membuat laporan orang hilang ke Polsek Kasihan.

 

Lakukan Kekerasan Satu sama Lain

Kembali ke soal 'akrivitas tidak wajar' Kombes Endriadi mengungkap bahwa mahasiswa UMY itu dimutilasi setelah meninggal dunia.

Baca Juga: Usai Bocorkan Video Jimin dan Jungkook di AS, Perusahaan dan Kapten Kapal Pesiar Hapus Akun Media Sosial

Lalu, apa yang menyebabkan Redho meninggal dunia?

Kombes Endriadi mengungkap bahwa korban dan kedua pelaku melakukan 'aktivitas tidak wajar' secara bersama-sama.

Untuk diketahui, Kombes Endriadi mengungkap bahwa aktivitas tidak wajar itu merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kekerasan.

Baca Juga: Daftar Pemain Top Dunia Pindah ke Liga Arab Saudi, Kompatriot Ronaldo Paling Mahal

Akibat kegiatan bersama itu pula yang akhirnya membuat Redho meninggal dunia.

"Mereka (korban dan pelaku) melakukan kegiatan berupa kekerasan satu sama lain dan terjadi berlebihan," ungkap Endriadi, Selasa 18 Juli 2023.

Melihat Redho tidak bernyawa, Waliyin dan RD langsung panik.

Baca Juga: Ratusan Mahasiswa Luwu Demo Tolak PT Antam Kelola Ex Vale

Tapi keduanya kemudian sepakat dan memutuskan untuk menghilangkan jejak peristiwa di malam kejadian itu.

Agar tidak bisa dideteksi sekaligus menyulitkan polisi, kedua pelaku akhirnya memutuskan untuk memotong-motong tubuh korban.

Hal pertama yang dilakukan pelaku adalah dengan memotong kepala, pergelangan tangan dan kaki.

Baca Juga: Unggah Foto Lawas, Sule Singgung Soal Nafkah Anak. Ternyata Begini Perjalanan Kariernya

Selanjutnya, Waliyin dan RD juga memotong bagian tubuh lainnya dan mahasiswa UMY itu.

Tidak hanya memotong. Kedua pelaku juga merebus bagian tubuh korban.

Merebus tubuh korban itu dilakukan untuk menghilangkan identitas korban, yakni berupa sidik jari.

Baca Juga: Rendy Kjaernett dan Lady Nayoan Jalani Sidang, Syahnaz Unggah Postingan Terima Kasih untuk Jeje Govinda

"Untuk menghilangkan jejaknya, terhadap pergelangan tangan dan pergelangan kaki, pelaku merebusnya untuk menghilangkan sidik jarinya," beber Endriadi.

Jadi, kita masih harus menunggu penjelasan lengkap dari kepolisian tentang 'aktivitas tidak wajar' yang dilakukan mahasiswa UMY Redho tri Agustian bersama Waliyin dan RD.***