POJOKSATU.id – Peran perempuan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga menjadi salah satu fenomena yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) melalui laporan Analisis Isu Terkini 2025.

Data BPS Sakernas menunjukkan 14,37 persen pekerja perempuan di Indonesia merupakan female breadwinners, yakni perempuan yang memiliki pendapatan paling dominan dalam rumah tangga.

Dari kelompok tersebut, sebanyak 47,65 persen menyumbang 90–100 persen dari total pendapatan keluarga.

Baca Juga: Atap Bocor Pas Musim Hujan? Amankan Rumah Lewat Kredit Cepat

Data tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh perempuan yang masuk kategori pencari nafkah utama menjadi sumber pendapatan yang sangat dominan bagi rumah tangganya.

BPS mencatat kondisi tersebut sebagai bagian dari perubahan peran ekonomi dan tantangan yang dihadapi perempuan.

“Tingginya ketergantungan rumah tangga pada pendapatan perempuan ini mencerminkan perubahan peran ekonomi dan tantangan yang mereka hadapi,” tulis BPS dalam Analisis Isu Terkini 2025.

Tidak Semua Female Breadwinners Berstatus Lajang

Fenomena tersebut juga tidak hanya terjadi pada perempuan yang tidak memiliki pasangan.

Baca Juga: Farhan Tegaskan Hubungan dengan Erwin Baik, Pemkot Bandung Kini Fokus Kejar Anggaran

Data yang dikutip dalam Indonesia Millennial & Gen Z Report (IMGR) 2027 menunjukkan 51,36 persen female breadwinners berstatus menikah.

Sementara itu, 31,18 persen berstatus janda dan 17,46 persen masih lajang.

Artinya, perempuan yang menjadi pencari nafkah utama juga ditemukan dalam rumah tangga yang masih memiliki pasangan.

Hanya 9,15 Persen Punya Pekerjaan Sampingan

BPS juga mencatat hanya 9,15 persen female breadwinners yang memiliki pekerjaan sampingan.

Menurut BPS, rendahnya persentase tersebut dapat berkaitan dengan keterbatasan kesempatan maupun kapasitas untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Baca Juga: DPRD Jabar Tinjau Eiger Nature Bogor, Potensi Ekowisata dan 1.200 Lapangan Kerja Disorot

“Keterbatasan ini dapat disebabkan oleh beban kerja utama yang tinggi, tanggung jawab domestik, atau kurangnya akses terhadap peluang kerja sampingan yang layak,” tulis BPS.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perempuan yang menjadi pencari nafkah utama tidak hanya berhadapan dengan persoalan pendapatan, tetapi juga dengan pembagian waktu dan tanggung jawab lainnya.

BPS mencatat sebagian besar female breadwinners bekerja dengan status berusaha, termasuk berusaha sendiri atau dibantu pekerja keluarga.

Baca Juga: Demo di KPK Desak Nusron Wahid Menteri ATR BPN Diperiksa Dugaan Money Politik Muktamar NU

Data tersebut menjadi gambaran mengenai perubahan struktur ekonomi rumah tangga di Indonesia, terutama ketika perempuan memiliki kontribusi dominan terhadap pendapatan keluarga.