POJOKSATU.id - Pergerakan rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Rabu, 16 September 2026.
Pasar valuta asing kini menaruh perhatian besar pada arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada pukul 09.11 WIB berada di level Rp17.731 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah 37 poin atau sekitar 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.694 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah datang bersamaan dengan penguatan dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat naik 0,12 persen ke level 99,730 pada pukul 09.00 WIB.
Perhatian pelaku pasar pun mengarah pada keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis pagi waktu Indonesia.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar sedang menunggu hasil pertemuan tersebut.
Ekspektasi mengenai arah suku bunga menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi pergerakan mata uang, termasuk rupiah.
Sejumlah pengamat memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga.
Probabilitas kenaikan bahkan diperkirakan berada di kisaran 85-90 persen.
Namun, Ibrahim memiliki pandangan berbeda mengenai keputusan yang akan diambil The Fed.
“Saya melihat bahwa Kevin Walsh dalam pertemuan tersebut kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga,” ujar Ibrahim kepada wartawan Rabu pagi, 16 September 2026.
Menurut Ibrahim, perkiraan tersebut salah satunya mengacu pada pernyataan Kevin Walsh dalam pertemuan pada Agustus lalu.
Baca Juga: 50 Kampus Paling Berkelanjutan di Indonesia Versi UI GreenMetric 2026, Ada UGM hingga IPB
Saat itu, Walsh disebut menyampaikan bahwa tingkat suku bunga Amerika Serikat sudah berada pada level yang terlalu tinggi.
Kondisi tersebut berkaitan dengan kebijakan Bank Sentral AS sebelumnya di bawah kepemimpinan Powell yang telah menaikkan suku bunga.
“Karena sebelumnya Bank Sentral di bawah Powell sudah menaikkan suku bunga sehingga Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga,” paparnya.
Meski begitu, arah kebijakan The Fed masih menjadi perhatian karena inflasi Amerika Serikat belum sepenuhnya lepas dari tekanan.
Baca Juga: Jadwal MCU Petugas Haji 2027 PPIH Kloter dan Arab Saudi, Kapan? Ini Bagian yang Akan Diperiksa
Pada pekan pertama September, Kevin Walsh dalam pidatonya di Kongres mengatakan bahwa suku bunga dapat dinaikkan apabila inflasi masih berada pada level tinggi.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan bagi ekonom dan pelaku pasar yang memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga.
Salah satu sumber tekanan inflasi yang disoroti adalah harga energi.
Ibrahim menyebut kenaikan harga bensin di Amerika Serikat sebagai salah satu indikator yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Hasil Tes Potensi Dasar PCPM BI 2026 Angkatan 41 Sudah Diumumkan, Cek Link dan Cara Melihatnya
“Harga bensin di Amerika yang tadinya 4,6-4,8 dollar AS per galon sekarang sudah di atas 6 dollar AS per galon,” pungkas dia.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Situasi semakin kompleks karena kondisi geopolitik di Timur Tengah juga masih bergejolak.
Ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman menjadi salah satu faktor yang ikut diperhatikan pasar.
Di kawasan yang sama, hubungan Amerika Serikat dan Iran juga disebut kembali memanas.
Baca Juga: Predikat AA SAKIP 2026, UPI Bandung Raih Nilai Tertinggi, Ini Cara Penilaian dan Daftarnya
Ibrahim menyinggung situasi di sekitar Selat Hormuz setelah Iran disebut menembak drone Amerika Serikat.
“Di sisi lain pun juga di Timur Tengah antara Amerika dan Iran ini semakin panas setelah Iran memutus rantai, menembak drone-drone terbaik Amerika di Selat Hormuz dan ini membuat ketegangan kembali memuncak,” lanjut dia.
Perkembangan harga energi dan geopolitik tersebut menjadi bagian dari perhatian pasar menjelang keputusan The Fed.
Bagi rupiah, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat akan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi sentimen terhadap dolar dan mata uang negara berkembang.***




