POJOKSATU.id — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menampilkan semburan lava pijar yang membentuk fenomena lava fountain ketika aktivitas erupsi terjadi pada Jumat (4/9) malam.

Pijaran berwarna merah hingga oranye tampak keluar dari kawasan kawah. Semburan tersebut merupakan material lava bersuhu sangat tinggi yang terdorong ke udara akibat tekanan gas yang berada di dalam magma.

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), lava fountain terjadi saat tekanan dari dalam gunung api membuat lava pijar terlontar melalui kawah dan membentuk pancaran menyerupai air mancur.

Pijaran lava biasanya terlihat semakin jelas ketika fenomena tersebut berlangsung pada malam hari.

Baca Juga: Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan Bandung, Farhan Minta Warga Tak Panik

Suhu material yang masih sangat tinggi membuatnya tampak menyala dengan warna merah-oranye saat berada di udara.

Kemunculan lava fountain berkaitan dengan proses pergerakan magma dari bagian dalam bumi menuju permukaan.

Dalam proses tersebut, gas yang terkandung di dalam magma ikut bergerak menuju bagian atas saluran magma.

Seiring meningkatnya tekanan, campuran magma dan gas terdorong menuju kawah.

Baca Juga: Cirebon Masuk Zona Merah Abu Vulkanik Anak Krakatau, KAI Pastikan Perjalanan Kereta Tetap Aman

Apabila tekanannya cukup besar, magma dapat terlontar ke udara dengan kekuatan tertentu.

Tidak seluruh material yang terlontar akan tetap berada di udara. Material pijar tersebut dapat kembali jatuh di area sekitar kawah.

Dalam kondisi tertentu, lava yang keluar juga bisa bergerak dan membentuk aliran di permukaan gunung api.

Badan Geologi menjelaskan bahwa kemunculan lava fountain pada aktivitas Gunung Anak Krakatau juga diikuti oleh terbentuknya aliran lava.

Aktivitas berupa erupsi yang berlangsung dalam waktu cukup lama dan menghasilkan semburan lava merupakan salah satu karakter yang dapat dijumpai pada sejumlah gunung api.

USGS menyebut lava fountain sering dikaitkan dengan magma basaltik.

Baca Juga: Rangkuman Materi TKA Matematika SMA, Kuasai Statistika dan Cara Membaca Data, Hasil Tes Makin Mantap!

Magma jenis ini memiliki karakter relatif cair sehingga pergerakan magma dan pelepasan gas menuju permukaan dapat berlangsung lebih mudah.

Gas yang bergerak dan keluar dari magma tersebut kemudian dapat menghasilkan tekanan yang cukup untuk mendorong lava keluar dari kawah dan memunculkan semburan ke udara.

Semburan lava fountain terlihat dalam rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung dari Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari.

Berdasarkan catatan aktivitas vulkanik, erupsi menerus mulai terjadi pada pukul 23.07 WIB.

Baca Juga: Bukan Cuma Jepang, Ini 10 Negara yang Punya Peringatan Bencana Lewat HP

Selama kejadian tersebut, suara gemuruh serta dentuman dilaporkan terdengar hingga beberapa wilayah di Banten, Lampung, dan Jawa Barat.

Gunung Anak Krakatau diketahui masih menunjukkan aktivitas vulkanik sejak 2 Juli 2026.

Sampai saat ini, status gunung api tersebut berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas erupsi kembali tercatat oleh Badan Geologi pada Minggu (6/9) pukul 03.53 WIB.

Baca Juga: Bupati Aep Tegaskan Sekolah Tak Diliburkan, Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Tipis

Peristiwa tersebut terekam pada alat seismograf dengan amplitudo maksimum 46 milimeter.

Erupsi kali ini berlangsung selama sekitar 30 detik.

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menyebabkan material vulkanik tersebar ke wilayah yang lebih luas.

Salah satunya berupa abu vulkanik yang terpantau mencapai Jakarta pada Minggu (6/9).

Keberadaan abu vulkanik tersebut turut memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Abu Vulkanik Mulai Merambah Bandung Raya, Bupati Dadang Supriatna: Jangan Sok Kuat Tanpa Masker

Sejumlah operasional penerbangan terdampak akibat kondisi udara yang terpengaruh sebaran abu vulkanik.

Material yang terlontar saat aktivitas erupsi juga dilaporkan mengenai fasilitas pemantauan di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Salah satu perangkat yang terdampak adalah kamera pengawas atau CCTV.

Peralatan tersebut mengalami kerusakan sehingga tidak lagi dapat digunakan untuk melakukan pemantauan seperti sebelumnya.

Baca Juga: Ombusdman Desak Imipas Evaluasi Tata Kelola Lapas dari Pungli dan Narkoba

Mengingat status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta tidak mengabaikan arahan keselamatan yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait.

BNPB dan PVMBG mengimbau masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk menjauhi kawasan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Pembatasan aktivitas di kawasan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya yang dapat muncul seiring dengan berlangsungnya aktivitas vulkanik.***