POJOKSATU.ID - Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memicu dampak yang sangat berlawanan pada dua sektor transportasi utama di Indonesia.

Di jalur laut, aktivitas penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak dipastikan masih berjalan normal dan aman.

Kepala KSOP Kelas IV Bakauheni, Capt. Suratno, mengonfirmasi bahwa 28 kapal tetap dikerahkan karena jarak pandang dan tumpukan abu di perairan belum mengganggu navigasi pelayaran.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor transportasi udara yang justru mengalami gangguan parah hingga ancaman pembatalan penerbangan.

Baca Juga: Meskipun Hujan Abu Krakatau Melanda, Kepala KSOP Tegaskan Penyeberangan Bakauheni–Merak Tetap Beroperasi!

Material abu vulkanik yang melayang di atmosfer menjadi ancaman maut bagi moda transportasi udara karena partikel silikanya berisiko fatal jika terhisap masuk ke dalam mesin jet pesawat.

Risiko mesin mati mendadak di udara membuat otoritas penerbangan dan pihak maskapai tidak memiliki pilihan selain menunda atau membatalkan penerbangan di wilayah lintasan abu.

Penutupan atau penundaan jalur udara ini terpaksa dilakukan demi memprioritaskan keselamatan jiwa seluruh penumpang serta kru pesawat.

Kontrasnya situasi ini membuat jasa penyeberangan laut menjadi tumpuan utama mobilitas masyarakat di tengah lumpuhnya jalur udara kawasan Selat Sunda.

Baca Juga: Menyusul Anak Krakatau, Gunung Semeru Ikut Meletus Dahsyat hingga Semburkan Abu 1.000 Meter!

Para calon penumpang pesawat yang terdampak pembatalan penerbangan pun diimbau untuk bersabar dan memahami risiko teknis mesin turbin jika nekat menembus awan abu.

Sementara itu, pengguna jasa penyeberangan kapal tetap diminta waspada dan menggunakan masker saat berada di area pelabuhan Bakauheni maupun Merak.

Petugas di lapangan dari kedua sektor transportasi ini terus berkoordinasi secara intensif dengan BMKG dan PVMBG untuk memantau pergerakan arah angin pembawa abu vulkanik.

Evaluasi berkala terus dilakukan demi memastikan operasional kapal laut tetap berada dalam batas toleransi batas aman pelayaran.

Kesadaran publik akan tingginya risiko bahaya abu vulkanik pada penerbangan diharapkan dapat meredam emosi calon penumpang pesawat.

Sinergi antara kehati-hatian otoritas penerbangan dan kesiapan armada laut menjadi kunci menjaga kelancaran konektivitas antar-pulau di masa tanggap darurat ini.***