POJOKSATU.id – Kasus dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur, terus menjadi sorotan.

Persoalan tersebut ternyata tidak hanya dialami ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin. Sejumlah siswa dan santri dari lembaga pendidikan lain yang juga menerima makanan dari SPPG Kalitengah dilaporkan mengalami keluhan kesehatan.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut adanya kesamaan sumber makanan dari SPPG tersebut.

“Memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren Manbaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama,” kata Emil, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: Wagub Jatim Ungkap 19 Lembaga Pendidikan Terdampak Keracunan MBG dari SPPG Kalitengah

27 Siswa dan Santri dari Lembaga Lain Ikut Mengeluh

Data sementara menunjukkan terdapat 27 siswa dan santri di luar Ponpes Manbaul Hikam yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG.

Mereka berasal dari dua lembaga pendidikan, yakni 14 santri Ponpes Roisus Shobur di Desa Ngaban, Tanggulangin, serta 13 siswa SMA dan SMP Tri Bakti.

Dari 13 siswa Tri Bakti tersebut, tujuh merupakan siswa SMA dan enam lainnya berasal dari jenjang SMP.

Para siswa dan santri tersebut sempat mendapatkan pemeriksaan di RSUD Sidoarjo.

Baca Juga: Bukan 293, Kini 500 Santri Tumbang Usai Santap MBG, SPPG Kalitengah Disuspend

Namun, kondisi mereka disebut tidak membutuhkan rawat inap dan seluruhnya telah diperbolehkan pulang.

Kesamaan sumber makanan dengan penerima MBG di Ponpes Manbaul Hikam kini menjadi salah satu hal yang turut ditelusuri oleh pihak berwenang.

Meski demikian, temuan tersebut belum membuktikan bahwa makanan MBG dari SPPG Kalitengah menjadi penyebab gangguan kesehatan. Pemeriksaan lebih lanjut masih diperlukan.

Menu MBG yang Dikonsumsi Sama

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam penelusuran adalah menu makanan yang dikonsumsi.

Baca Juga: Terjadi Lagi! 293 Santri Tumbang Usai Santap MBG, Ambulans Banjiri Ponpes Manbaul Hikam

Para penerima MBG mendapatkan menu berupa nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, serta apel.

Makanan tersebut didistribusikan dari SPPG Kalitengah kepada sejumlah lembaga penerima manfaat.

Karena terdapat penerima dari beberapa lembaga yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan dari sumber yang sama, proses pemeriksaan terhadap SPPG menjadi bagian penting dalam mengungkap kejadian tersebut.

Pemerintah masih perlu memastikan berbagai kemungkinan, mulai dari kondisi bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan.

Baca Juga: Tangki Air Bebas Lumut Dinilai Cocok Untuk Fasilitas Dapur MBG

Kasus di Manbaul Hikam Tembus Ratusan Orang

Sementara itu, kasus di Ponpes Manbaul Hikam sendiri terus mengalami perkembangan.

Sebelumnya, jumlah santri yang mendapatkan penanganan medis mencapai 500 orang dan tersebar di delapan rumah sakit.

Dari jumlah tersebut, 320 pasien telah diperbolehkan pulang, 65 masih menjalani rawat inap, sedangkan 115 lainnya berada dalam tahap observasi.

Para santri sebelumnya dilaporkan mengalami sejumlah keluhan seperti pusing, mual, muntah, diare hingga sesak napas beberapa jam setelah menyantap MBG.Baca Juga: 80 Sekolah Swasta Elite Tak Lagi Dapat MBG, BGN Ungkap Alasannya

SPPG Kalitengah Disuspend

Munculnya kasus tersebut membuat operasional SPPG Kalitengah dihentikan sementara atau disuspend.

Emil Dardak membenarkan langkah tersebut dan mengatakan penghentian sementara merupakan bagian dari prosedur Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menangani dugaan kasus keracunan makanan.

“Iya, di-suspend. Itu sudah SOP ya dari BGN,” ujar Emil.

Selain penghentian sementara, pemeriksaan terhadap SPPG juga dilakukan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya.

Tim BBPOM turun langsung untuk mengumpulkan informasi dan menelusuri kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para penerima MBG.

Baca Juga: Pigai Berkata: MBG Itu Mulia yang Menolak Berarti Ingin Mati

Penyebab Belum Bisa Dipastikan

Meski jumlah penerima MBG yang mengalami keluhan terus menjadi perhatian, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab kejadian.

Pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk memastikan apakah terdapat kaitan antara makanan yang dikonsumsi dengan keluhan kesehatan yang dialami para siswa dan santri.

Karena itu, dugaan keracunan tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan adanya gejala setelah mengonsumsi makanan.

Hasil pemeriksaan BBPOM dan laboratorium nantinya diharapkan dapat mengungkap apakah persoalan terjadi pada bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusi MBG.