POJOKSATU.id - Selama ini Google Maps mungkin lebih sering dipakai untuk satu kebutuhan sederhana yaitu mencari jalan menuju suatu tempat.
Padahal, bagi pekerja di industri wisata dan perhotelan, aplikasi tersebut bisa menjadi alat bantu yang cukup penting dalam menyiapkan perjalanan.
Menyusun itinerary, mencari lokasi alternatif, mengecek tempat yang sedang ramai, sampai memberikan rekomendasi kepada tamu bisa dilakukan lebih praktis dengan memanfaatkan sejumlah fitur di dalamnya.
Nah, kemampuan seperti ini bisa menjadi nilai tambah bagi pemandu wisata maupun staf hotel.
Sebab, pelayanan kepada tamu tidak hanya soal keramahan, tetapi juga seberapa cepat dan tepat memberikan informasi.
Google Maps Bisa Membantu Menyusun Itinerary
Rencana perjalanan yang terlihat sederhana sebenarnya membutuhkan banyak pertimbangan.
Jarak antarlokasi, perkiraan waktu perjalanan, urutan tempat yang dikunjungi, hingga kondisi lalu lintas perlu diperhitungkan agar jadwal tidak berantakan.
Google Maps dapat membantu memperkirakan hal tersebut tanpa harus menggunakan banyak aplikasi tambahan.
Baca Juga: Hujan Salat
Bagi pekerja wisata, informasi semacam ini berguna ketika harus membuat perjalanan yang efisien.
Apalagi pertanyaan dari tamu bisa datang kapan saja.
Bisa soal tempat makan terdekat, apotek, lokasi wisata, sampai tempat yang masih buka pada malam hari.
Dengan menguasai fitur-fitur Google Maps, jawaban terhadap kebutuhan tersebut bisa diberikan dengan lebih cepat.
Baca Juga: Kiper Timnas Indonesia Hijrah ke LaLiga Spanyol, Pengalaman Baru di Negeri Matador
Ada 4 Fitur yang Layak Dikuasai
1. Peta Offline Saat Sinyal Hilang
Perjalanan wisata tidak selalu berlangsung di kawasan dengan jaringan internet yang stabil.
Destinasi di pegunungan, daerah terpencil, atau pulau kecil bisa saja memiliki keterbatasan sinyal.
Di kondisi seperti ini, fitur peta offline dapat menjadi penyelamat.
Area tertentu dapat diunduh terlebih dahulu sehingga peta masih bisa digunakan ketika perangkat tidak mendapatkan koneksi internet.
Bagi pemandu wisata, menyiapkan peta offline sebelum perjalanan bisa mengurangi risiko kehilangan arah saat berada di lokasi dengan sinyal terbatas.
2. Daftar Tersimpan Bikin Lokasi Lebih Terorganisasi
Fitur daftar tersimpan juga cukup berguna ketika harus menyiapkan banyak pilihan lokasi.
Misalnya, tempat makan, penginapan, lokasi wisata, hingga spot foto dapat dikelompokkan ke dalam daftar yang berbeda.
Daftar tersebut kemudian dapat dibagikan kepada rekan kerja atau tamu.
Baca Juga: BMKG-Bakamla Siapkan Integrasi Data Cuaca dan Pergerakan Kapal, Keselamatan Laut Diperkuat
Cara ini terasa lebih praktis dibandingkan mengirimkan banyak tautan lokasi satu per satu melalui aplikasi pesan.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan koordinasi, pengelompokan seperti ini juga membuat informasi lebih mudah ditemukan kembali.
3. Timeline Bisa Membantu Mengingat Perjalanan
Google Maps juga memiliki fitur Timeline yang dapat mencatat riwayat lokasi pada perangkat yang mengaktifkannya.
Bagi pekerja wisata, catatan tersebut bisa membantu mengingat kembali lokasi yang pernah dikunjungi dan urutan perjalanan.
Baca Juga: BMKG-Bakamla Siapkan Integrasi Data Cuaca dan Pergerakan Kapal, Keselamatan Laut Diperkuat
Informasi semacam ini dapat berguna ketika menyusun laporan atau mengevaluasi perjalanan sebelumnya.
Namun, fitur tersebut berkaitan dengan data lokasi pribadi.
Karena itu, pengaturan privasi dan penggunaannya perlu dipahami dengan baik sebelum diaktifkan.
4. Jangan Abaikan Ulasan dan Foto Terbaru
Rekomendasi tempat tidak cukup hanya berdasarkan nama dan lokasi.
Baca Juga: Unggah Foto Keluarga, Anthony Xie Tulis Pesan Perpisahan untuk Audi Marissa
Ulasan pengguna serta foto terbaru di Google Maps dapat memberikan gambaran mengenai kondisi sebuah tempat.
Informasi tersebut bisa membantu melihat apakah suatu lokasi masih ramai, fasilitasnya masih tersedia, atau bahkan sudah tidak beroperasi.
Hal ini penting bagi pekerja wisata. Jangan sampai tamu sudah diarahkan ke sebuah tempat, tetapi ketika tiba di lokasi ternyata kondisinya sudah berubah.
Foto dari pengunjung juga dapat memberikan gambaran yang lebih aktual dibandingkan materi promosi resmi.
Baca Juga: Audi Marissa Gugat Cerai Anthony Xie, Sidang Perdana Dijadwalkan 3 September
Waktu Tempuh Jangan Cuma Dilihat dari Jarak
Salah satu kesalahan ketika menyusun perjalanan adalah menganggap jarak sebagai satu-satunya patokan.
Padahal, dua lokasi yang terlihat berdekatan belum tentu membutuhkan waktu perjalanan yang singkat.
Perbedaan kondisi lalu lintas pada pagi dan sore hari bisa membuat durasi perjalanan berubah cukup jauh.
Karena itu, pekerja wisata sebaiknya memeriksa perkiraan waktu tempuh pada jam perjalanan yang sebenarnya.
Langkah sederhana ini bisa membantu mencegah keterlambatan sejak destinasi pertama.
Tetap Perlu Pengetahuan Lapangan
Meski memiliki banyak fitur, Google Maps bukan berarti bisa dijadikan satu-satunya sumber informasi.
Jam operasional suatu tempat misalnya, belum tentu selalu diperbarui oleh pemilik usaha.
Untuk lokasi yang sangat penting dalam itinerary, menghubungi tempat tersebut terlebih dahulu tetap menjadi pilihan yang lebih aman.
Begitu pula dengan rute.
Jalur yang terlihat cocok untuk kendaraan biasa belum tentu nyaman dilewati bus wisata.
Kondisi jalan, ukuran kendaraan, tempat parkir, dan situasi lapangan tetap perlu dipertimbangkan.
Jadi, teknologi sebaiknya menjadi alat bantu, bukan pengganti pengetahuan seorang pemandu atau staf hotel.
Rencana Perjalanan Bisa Dibagikan Sekaligus
Ketika itinerary sudah disusun, daftar lokasi di Google Maps dapat dibagikan kepada tim maupun tamu.
Tamu pun bisa mengikuti lokasi yang telah disiapkan tanpa harus terus-menerus menanyakan arah.
Untuk perjalanan rombongan, titik kumpul dan lokasi parkir juga dapat ditentukan sejak awal.
Wah, kebiasaan kecil seperti ini bisa cukup membantu ketika kondisi di lapangan mulai ramai.
Meski demikian, salinan rencana perjalanan tetap sebaiknya disiapkan sebagai cadangan.
Baterai perangkat habis atau gangguan teknis bisa terjadi kapan saja.
Skill Digital Jadi Nilai Tambah di Industri Wisata
Kemampuan menggunakan teknologi secara tepat kini semakin berkaitan dengan kualitas pelayanan di industri wisata dan perhotelan.
Baca Juga: ARJUNA 2026 Dibuka, Kompetisi Nasional Puspresindo untuk Siswa hingga Mahasiswa, Ini Lombanya
Google Maps hanyalah salah satu alat yang bisa dimanfaatkan untuk membuat pekerjaan lebih efisien.
Pengetahuan tentang penyusunan perjalanan, pelayanan tamu, dan pengelolaan destinasi juga tetap diperlukan agar kemampuan digital tersebut bisa digunakan secara maksimal.
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) memiliki program studi di bidang pariwisata dan perhotelan yang membahas berbagai kebutuhan industri, mulai dari perencanaan perjalanan hingga pelayanan tamu dan pengelolaan destinasi.
Bagi mereka yang ingin menekuni bidang wisata dan perhotelan, kemampuan menggabungkan pengetahuan industri dengan teknologi seperti Google Maps bisa menjadi bekal yang semakin relevan.***

