POJOKSATU.id, JAKARTA—Dua warga Pejompongan Jakarta Pusat menjadi korban kerusuhan demo 27 Agustus 2026 pada Kamis malam hingga Jumat dinihari.

Satu warga yang merupakan pedagang cermin yaitu Bambang Setiawan (59) tewas dikeroyok dan jenazahnya sempat dibawa ke RS Polri.

Sementara satu warga lainnya yaitu Faturrohman (18) menderita luka parah usai mendapat penganiayaan dari sejumlah orang yang diduga berasal dari ormas.

Dengan kondisi wajah yang babak belur, Faturrohman mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang.

Saat itu, dia sedang berdiri di depan gang dekat rumahnya. Sekelompok orang yang terlibat kericuhan tiba-tiba masuk ke dalam gang dan mendorongnya hingga terjatuh.

Baca Juga: Kemunculan Kelompok Massa Berikat Kepala Putih, Nasib Truk Dirusak Ditinggalkan Ormas

Setelah itu, ia mengaku diseret keluar gang oleh sejumlah orang yang disebutnya mengaku sebagai intel.

"Saya lagi berdiri di depan gang rumah. Terus yang rusuh-rusuh masuk ke dalam, dorong saya sampai jatuh. Setelah itu, intel-intel masuk dan menarik saya. Ngakunya intel dari DPR," ujar Faturrohman kepada wartawan di Pejompongan, Jumat (28/8/2026).

Ia mengaku telah menjelaskan kepada orang-orang tersebut bahwa dirinya merupakan warga setempat dan tidak terlibat dalam aksi kerusuhan.

"Sudah ngaku kalau saya warga sini, tapi dia enggak percaya. Langsung ditarik ke luar dan disamperin sama teman-temannya, terus saya digebukin," ungkapnya.

Baca Juga: Rampas Aset

Faturrohman juga mengatakan dirinya sempat berusaha dipisahkan oleh tim medis yang berada di lokasi. Namun, ia mengaku tetap menjadi sasaran pengeroyokan.

Ia menyebut terdapat luka akibat benda tajam di bagian kepala dan dada serta luka pada mulut.

Aksi pengeroyokan terhadap Faturrohman ini direkam sejumlah warga dan videonya beredar di media sosial.

Faturrohman juga menceritakan pengalamannya usai dalam penanganan petugas di area DPR maupun Polda Metro Jaya. Ia mendapatkan intimidasi verbal dan kekerasan fisik.

"Di dalam ada intimidasi, ada pemaksaan untuk ngaku sebagai provokator. Selain dipukul pakai tangan kosong, dada, punggung, dan kepala saya juga dipukul pakai alat tipis seperti penggaris besi atau pisau," tutur Faturrohman yang telah kembali ke rumah pada Jumat siang.

Tukang Cermin Tewas

Selain Faturrohman, warga Pejompongan lainnya yang menjadi korban adalah Bambang Setiawan (59). Pria yang sehari-hari berkerja sebagai pedagang kaca atau tukang cermin di Pejompongan.

Bambang diduga menjadi korban pengeroyokan orang tidak dikenal atau OTK dalam kericuhan tersebut.

Istri Bambang Setiyawan, Sudarsi menceritakan, kronologi suaminya meninggal. Pada Kamis sore, ia masih menemani Bambang berjualan cermin di Pejompongan hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Biasanya mereka menutup usahanya sekitar pukul 18.00 WIB.

“Sebenarnya kita belum tutup. Tutupnya itu jam 18.00. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak, akhirnya saya bilang sama Bapaknya, ‘Itu massa sudah banyak, tutup’,” kata Sudarsi, Jumat, 28 Agustus 2026.

Setelah tempat usahanya ditutup, keduanya kembali ke rumah. Tidak lama kemudian, anak mereka datang bersama seorang warga bernama Tagor yang sedang sakit.

Tagor kemudian meminta agar diantar ke RS Pelni. Anak Bambang pun mengantar Tagor dengan menggunakan sepeda motor, sementara Sudarsi dan Bambang tetap berada di rumah.

Setelah mengantar Tagor ke RS Pelni, anak Bambang kembali ke rumah sekitar pukul 20.30 hingga 21.00 WIB. Saat itu, situasi di sekitar tempat tinggal mereka masih diwarnai kerumunan massa.

Menurut Sudarsi, massa sempat terdorong masuk ke kawasan sekitar lokasi tempat tinggal mereka. Setelah situasi dinilai lebih aman, Bambang kemudian memutuskan keluar rumah.

“Dia itu cuma nonton, kadang-kadang membantu ngucurin air buat cuci muka,” ujar Sudarsi.

Namun, Bambang tidak kunjung kembali ke rumah hingga larut malam.

Keluarga kemudian mendapat informasi bahwa Bambang telah dibawa ke RS Polri. Sudarsi mengatakan suaminya diduga telah meninggal dunia di lokasi kejadian sebelum dibawa ke rumah sakit.***