POJOKSATU.id - Ratusan pengungsi gempa NTT di Dusun Niaiba, Desa Kebiranga, Kecamatan Maokaro, Kabupaten Ende mendapat layanan kesehatan dari relawan Gerakan Anak Negeri (GAN), Minggu 23 Agustus 2026.
Untuk menuju lokasi, tim GAN berangkat dari Kelurahan Paupire bersama Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ende, Fransisca Nusanumba Ero dan beberapa jajarannya.
Jarak sekitar 95 kilometer itu dilalui dengan menempuh sekitar 3 jam menembus jalan berkelok tebing pegunungan dan laut di sisi lainnya.
Baca Juga: Gempa Susulan Flores Capai 4.258 Kali, BMKG Prediksi Masih Berlangsung hingga 4 Minggu
Lokasi pengungsian berada di tanah lapang tak jauh dari rumah warga di pesisir pantai dengan tenda-tenda seadanya menggunakan terpal.
Setelah menggelar alas dan menyiapkan meja pendaftaran dan obat-obatan, satu per satu warga langsung berdatangan memenuhi posko GAN.
Perawat RSUD Kota Bogor, Adi Nurrohman melakukan screening awal dengan pemeriksaan tensi, nadi, suhu, hingga kandungan oksigen dalam darah.
Baca Juga: Mengunjungi RSUD Ende Pasca-gempa, Pasien Dirawat di Tenda, Tenaga Kesehatan Mulai Kelelahan
Setelah itu, warga diarahkan ke dokter dari RSUD Kisa Depok, Faris Maulana Irfan, untuk anamnesa dan diagnosa lalu diberikan resep obat yang disiapkan perawat Puskesmas Bogor Selatan, Topan Aditya.
Relawan medis juga dibantu tim dari Dinkes Ende dan Puskesmas setempat.
Tim juga jemput bola dengan mendatangi tenda-tenda yang dihuni lansia yang tidak bisa berjalan ke posko.
Baca Juga: Gempa NTT Terus Mengguncang, Jumlah Pengungsi Bertambah Jadi 110.785 Orang
Tak hanya melakukan penanganan medis, relawan Gerakan Anak Negeri juga membawa dua ahli refleksi dari Cimande, yakni Ihwan Setiawan dan M. Padlillah.
Warga yang antre dipijat banyak yang mengeluh pegal dan sakit persendian usai gempa.
Total, ada sekitar 120 warga yang memeriksaan kesehatannya. Sementara ahli pijat Cimande melayani belasan warga.
Ketua RT Dusun Niaiba, Sahabudin, mengatakan ada sekitar 500 jiwa atau 135 kepala keluarga (KK) di wilayahnya terdampak bencana gempa.
Sebelumnya warga terpencar mencari tempat aman setelah gempa mengguncang, kini berkumpul di pengungsian lebih dari sepekan.
"Setelah (gempat) reda sedikit kami mengungsi ke sini. Pertamanya di kantor Kapolsek, semua berkumpul di situ. Bahkan ada yang ke gunung-gunung," kata Sahabudin.
Setelah kondisi mulai mereda, warga kemudian bermusyawarah untuk berkumpul di satu lokasi pengungsian.
Langkah tersebut dilakukan agar warga tidak terpencar dan lebih mudah mendapatkan bantuan.
Baca Juga: Prabowo Disentil, ke Paris Pakai APBN tapi Korban Gempa NTT Open Donasi
Sahabudin menyebut, jumlah warga yang saat ini berada di lokasi pengungsian mencapai sekitar 152 KK.
Jumlah tersebut termasuk warga dari luar dusun yang ikut mengungsi bersama masyarakat setempat.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan yang paling mendesak bagi para pengungsi adalah selimut.
Baca Juga: Update Korban Jiwa Gempa Bumi Magnitudo 7,7 NTT Capai 78 Orang, 953 Orang Luka-luka
Warga yang tinggal di dalam tenda harus menghadapi cuaca dingin, terutama pada malam hari.
"Air minum sudah ada, tapi kendalanya masalah kendaraan untuk air minum. Termasuk pengobatan dan alat-alat balita," ungkapnya.
Kebutuhan selimut yang mendesak itu lantaran cuaca dingin, terutama bagi anak-abak dan warga lanjut usia.
"Yang kasihan sekarang saat ini berada di tenda-tenda. Seperti yang saya katakan tadi, selimut yang diutamakan. Ini musim dingin," katanya.***




