POJOKSATU.id — Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki aktivitas gempa bumi cukup tinggi.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.
Wilayah Indonesia juga berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire.
Kondisi geologi tersebut membuat berbagai daerah di Indonesia memiliki potensi mengalami gempa bumi dengan karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda-beda.
Baca Juga: Aplikasi Sudah Dihapus tapi Penyimpanan HP Masih Penuh? Ini 8 Cara Mengatasinya
Kerawanan gempa tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering suatu daerah mengalami gempa.
Keberadaan zona subduksi, sesar aktif, serta kondisi geologi setempat juga menjadi faktor yang memengaruhi potensi bahaya gempa bumi.
Sejumlah wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain berada di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Di Sumatera, Aceh dan Sumatera Utara termasuk wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.
Baca Juga: Dampak Perubahan View YouTube Mulai 24 Agustus 2026 bagi Kreator
Selain dipengaruhi jalur sesar aktif di daratan, kawasan tersebut juga berdekatan dengan zona subduksi di sebelah barat Pulau Sumatera.
Sumatera Barat juga memiliki potensi gempa karena berada di sekitar zona subduksi serta memiliki sejumlah struktur sesar aktif.
Kondisi serupa juga ditemukan di Bengkulu dan Lampung yang berada di sepanjang jalur tektonik aktif di bagian barat Indonesia.
Beranjak ke Pulau Jawa, wilayah Jawa Barat bagian selatan memiliki potensi gempa karena berhadapan dengan zona subduksi di selatan Jawa.
Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta juga perlu mewaspadai aktivitas gempa yang dapat bersumber dari zona subduksi maupun sesar aktif di daratan.
Sementara itu, Jawa Timur dan Bali juga berada di kawasan yang dipengaruhi aktivitas tektonik di selatan Jawa-Bali.
Pergerakan lempeng di kawasan tersebut dapat memicu terjadinya gempa bumi.
Potensi gempa juga terdapat di wilayah Nusa Tenggara.
Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur berada di kawasan dengan aktivitas tektonik yang cukup kompleks karena dipengaruhi zona subduksi serta berbagai struktur sesar.
Di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur, Sulawesi menjadi salah satu wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.
Pulau tersebut memiliki sejumlah sesar aktif yang dapat menjadi sumber gempa bumi.
Maluku juga termasuk kawasan yang memiliki aktivitas gempa cukup tinggi.
Kompleksitas pertemuan lempeng di kawasan tersebut menyebabkan gempa bumi relatif sering terjadi di sejumlah wilayah.
Papua pun memiliki potensi gempa karena terdapat sejumlah sesar aktif dan struktur tektonik yang kompleks.
Baca Juga: Mengenal Hotspot Karhutla, Titik Panas yang Dipantau Lewat Satelit
Aktivitas tektonik di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Papua termasuk wilayah yang perlu memperhatikan risiko gempa.
Meski demikian, masuk dalam kategori daerah rawan gempa bukan berarti suatu wilayah pasti akan mengalami gempa pada waktu tertentu.
Gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara tepat mengenai kapan, di mana, dan seberapa besar kekuatannya.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana.
Informasi mengenai aktivitas gempa dan peringatan dini sebaiknya diperoleh dari sumber resmi, termasuk BMKG dan BNPB.
Pemahaman mengenai kondisi wilayah juga penting agar masyarakat dapat mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
Kesiapsiagaan, bangunan yang memenuhi standar, serta pengetahuan mengenai jalur dan titik evakuasi dapat membantu mengurangi risiko ketika bencana terjadi.***




