POJOKSATU.ID - Kementerian Sosial menerapkan strategi mobilisasi logistik cepat multi-jalur untuk menyokong kebutuhan dasar masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.
Pendistribusian bantuan tidak bergantung pada satu jalur pengiriman tunggal, melainkan menggerakkan seluruh stok terdekat yang ada di region tersebut secara simultan.
Pasokan bantuan pangan tahap awal berupa puluhan ton beras telah dikirimkan untuk memastikan kebutuhan konsumsi warga pengungsi dapat terpenuhi.
Secara keseluruhan, nilai logistik kebencanaan yang digelontorkan pada tahap awal penanganan bencana ini mencapai miliaran rupiah.
Baca Juga: Mensos Tegaskan Validasi Data Korban Gempa NTT Menjadi Prioritas Intervensi Penanganan
Langkah ini diambil guna menjamin tidak adanya kekosongan stok barang pokok di area perbatasan bencana.
Pergerakan logistik dilakukan secara berantai mulai dari sentra lokal hingga gudang pasokan pusat di Jawa Barat.
Sentra Efata Kupang serta Dinas Sosial Provinsi NTT telah mendistribusikan ratusan paket tempat tidur lipat, kasur, selimut, pakaian, dan tenda keluarga ke wilayah Nagekeo, Sikka, Ende, dan Manggarai Timur.
Sementara itu, armada dari Gudang Pusat Kemensos di Bekasi dikerahkan untuk memperkuat stok logistik daerah dengan mengirimkan ribuan paket makanan siap saji dan tenda serbaguna.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 7,7 Guncang NTT, Puluhan Korban Jiwa Terdata di Berbagai Daerah
Tidak hanya barang sandang dan pangan, perlengkapan sanitasi seperti paket kebersihan serta unit dapur umum lapangan juga turut disertakan dalam pengiriman tersebut.
Di samping penyaluran barang fisik, Kementerian Sosial juga menugaskan ratusan personel Taruna Siaga Bencana dan tim perlindungan sosial korban bencana ke lokasi terdampak.
Para petugas ini diterjunkan langsung untuk membantu proses asesmen kebutuhan, pendataan korban, hingga pendirian tenda-tenda darurat di titik pengungsian.
Pengoperasian dapur umum lapangan menjadi perhatian khusus agar konsumsi harian para pengungsi dapat tersaji secara higienis dan teratur setiap hari.
Seluruh jajaran personel darurat dipastikan akan terus berada di lokasi untuk mendukung pemulihan kehidupan warga.
Sinergi jaringan pasokan dan tenaga lapangan ini diharapkan dapat mempercepat normalisasi kondisi sosial masyarakat di Nusa Tenggara Timur.***




