POJOKSATU.ID - Guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang menghentak Nusa Tenggara Timur hari ini menambah panjang catatan aktivitas tektonik di kawasan tersebut.
Sebelum gempa besar ini terjadi, daerah NTT sebenarnya baru saja diguncang oleh peristiwa gempa skala menengah pada 26 Juli 2026.
Kala itu, guncangan tektonik dengan kekuatan magnitudo 5,5 melanda wilayah daratan pulau tersebut.
Pusat gempa terdeteksi berada di darat, yakni berjarak sekitar 19 kilometer di sebelah barat daya Kabupaten Kupang.
Baca Juga: Banjir Empati di Media Sosial, Warganet Gaungkan Doa dan Dukungan Moral untuk Korban Gempa NTT
Getaran gempa dirasakan cukup kuat oleh warga yang beraktivitas di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.
Meski guncangan sempat memicu kepanikan warga, pihak BMKG mengonfirmasi bahwa peristiwa tersebut tidak sampai menimbulkan gelombang tsunami.
Laporan resmi dari instrumen pemantau menunjukkan karakteristik gempa darat tersebut murni akibat pergeseran sesar lokal.
Tidak ada laporan mengenai kerusakan struktur bangunan secara masif akibat rentetan guncangan pada akhir bulan lalu itu.
Baca Juga: Polda NTT Utamakan Penyelamatan Warga dan Siapkan Posko Bantuan Pasca Gempa M 7,7
Namun, peristiwa guncangan menengah tersebut menjadi pertanda tingginya dinamika pergerakan lempeng di kawasan Nusa Tenggara.
Rentang waktu yang tergolong singkat antara dua kejadian menunjukkan intensitas aktivitas seismik yang cukup tinggi.
Pengamatan historis ini menjadi bahan evaluasi penting bagi para pakar geofisika dalam memetakan potensi bencana.
Pemantauan ketat pascagempa Juli terus dilakukan untuk mengantisipasi pelepasan energi tektonik susulan.
Rangkaian kejadian guncangan ini makin menegaskan posisi NTT sebagai wilayah yang sangat aktif secara geologis.
Pemahaman atas riwayat gempa berkala ini menjadi modal berharga dalam memperkuat sistem mitigasi bencana daerah.***




