POJOKSATU.ID - Pengamatan muka air laut pascagempa bumi magnitudo 7,7 di Flores menunjukkan adanya kenaikan gelombang tsunami di beberapa titik wilayah pemantauan.

Berdasarkan data pengamatan otomatis stasiun maritim, gelombang awal tsunami telah terdeteksi menyapu sejumlah pesisir sejak pagi hari.

Ketinggian air laut yang tercatat bervariasi di tiap-tiap stasiun pemantau yang tersebar di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi.

Di wilayah Maurole, Ende, ketinggian gelombang tsunami terukur mencapai 0,94 meter dari permukaan normal.

Baca Juga: Gempa Bermagnitudo 7,7 Guncang Flores, BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Dini Tsunami untuk NTT dan Sulsel

Sementara itu, wilayah Bulukumba di Sulawesi Selatan mencatat peningkatan ketinggian air laut sebesar 0,54 meter.

Titik pemantauan lain seperti Baubau dan Kolaka di Sulawesi Tenggara juga merekam fenomena fluktuasi air laut berturut-turut setinggi 0,30 meter dan 0,23 meter.

Di kawasan Sikka, gelombang tsunami terdeteksi awal dengan ketinggian sekitar 0,19 meter pada waktu setempat.

Wilayah Bakalang di Kabupaten Alor serta kawasan Dompu juga melaporkan kenaikan muka air laut masing-masing 0,14 meter dan 0,17 meter.

Baca Juga: BMKG Cabut Ancaman Tsunami Flores, Masyarakat Diminta Tetap Waspada di Area Pantai Pasca Gempa M 7,7 NTT

Terdeteksinya lonjakan air laut ini mengonfirmasi bahwa energi guncangan gempa bawah laut telah berhasil memicu pergerakan massa air.

Meskipun beberapa rekaman tinggi gelombang tergolong rendah, dinamika arus laut diprediksi masih dapat berubah sewaktu-waktu.

Petugas pemantau di stasiun pesisir terus memperbarui data elevasi air guna mengantisipasi kedatangan gelombang susulan.

Masyarakat diimbau untuk menjauhi area pantai serta bantaran sungai yang terhubung langsung ke arah laut terbuka.

Keseluruhan data observasi ini terus diintegrasikan untuk menilai tingkat risiko bahaya di sepanjang garis pantai terdampak.***