POJOKSATU.id, BANYUMAS-- Keluarga Sutrimo eks penjaga rumah atau Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah akhirnya lapor polisi, Sabtu (8/8/2026) malam.

Pelaporan dilakukan ke Polresta Banyumas setelah 17 hari atau lebih dua pekan usai kematian Sutrimo di depan klinik Mordent Kebayoran Baru Jaksel, dengan mulut dan hidung berbusa.

Keponakan Sutrimo, Abi mengatakan, kabar mengenai penyebab kematian Sutrimo menjadi simpang siur sehingga keluarga merasa tidak nyaman.

Baca Juga: Beautiful Beast

"Laporan terkait meninggalnya ini wajar atau tidak, itu saja, karena beritanya simpang siur ke sana-sini, tidak enak didengar, mengganggu keluarga dan lingkungan sekitar," kata Abi usai membuat laporan, Sabtu (8/8/2026) malam.

Kakak tiri Sutrimo, Tukim mengatakan, keluarga awalnya tidak menaruh kecurigaan saat jenazah tiba di Desa Wlahar, Kamis (23/8/2026) malam, sehingga langsung dimakamkan.

"Jenazah bersih, sudah dikain kafan, dibuka, enggak ada kecurigaan apa-apa. Makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena namanya orang kampung, keadaan jenazah bersih jadi tidak ada kecurigaan apa-apa," ujar Tukim lagi.

Ketika disinggung mengenai pekerjaan Sutrimo di Jakarta, Tukim mengaku tidak mengetahuinya. Setahu keluarga, Sutrimo bekerja di Jakarta saja.

Baca Juga: Polisi Periksa CCTV dan Lima Saksi Terkait Kematian Sutrimo Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie

Penasihat hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni juga mengatakan, keluarga enggan dikaitkan dengan nama tertentu terkait pekerjaan Sutrimo selama di Jakarta.

"Keluarga sepakat tidak menyebut siapa pun, tahunya di Jakarta," kata Aan.

Ia menjelaskan, terkait kematian Sutrimo, keluarga awalnya tidak menaruh curiga. Namun karena semakin banyak simpang siur yang berkembang, pihak keluarga akhirnya memutuskan membuat laporan kepolisian.

"Apalagi ada tuduhan keluarga enggak lapor gara-gara dapat uang Rp 1 miliar," ujar Aan.

Diberitakan sebelumnya, Sutrimo penjaga rumah sekaligus kepala rumah tangga Febrie Adriansyah ditemukan dalam kondisi mulut dan hidung berbusa di depan Klinik Mordent Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (23/7/2026) pagi.

Beberapa orang sempat melarikan Sutrimo ke rumah sakit terdekat atau RS Muhammadiyah, namun nyawanya tidak tertolong. Salah satu yang membawa termasuk pegawai Kejaksaan Agung bernama Febrio Adiono.

Jenazah Sutrimo kemudian tiba di kampung halamannya di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, dan langsung dimakamkan pada Kamis (23/7/2026) malam.***