POJOKSATU.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa tingkat fertilitas total atau total fertility rate (TFR) di Indonesia terus menunjukkan tren penurunan dalam lebih dari lima dekade terakhir.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo menyampaikan bahwa rata-rata perempuan Indonesia usia reproduksi 15–49 tahun kini melahirkan 2,13 anak sepanjang masa reproduksinya.

Jika dibandingkan dengan awal 1970-an, angka tersebut mengalami penurunan yang sangat besar.

Baca Juga: YAPI Tambah Kuota Beasiswa 2026/2027 Jadi 339 Paket, Targetkan Donasi Rp1 Miliar

Pada periode itu, rata-rata perempuan di Indonesia melahirkan sekitar 5,6 anak.

Sonny menjelaskan, salah satu penyebab utama perubahan tersebut adalah pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) yang mulai digalakkan pemerintah sejak awal 1970-an, meskipun dampaknya tidak berlangsung secara instan.

"Program keluarga berencana tidak langsung memberikan hasil ketika diluncurkan pada 1970 karena membutuhkan proses perubahan perilaku di masyarakat," ujar Sonny.

Baca Juga: Warga yang Main Hakim Sendiri Bisa Dipenjara? Simak Penjelasan dan Dasar Hukumnya

Ia mengatakan, hasil dari kebijakan tersebut baru mulai terlihat pada era 1990-an ketika angka kelahiran menunjukkan tren penurunan.

Dengan kondisi saat ini, rata-rata rumah tangga di Indonesia memiliki sekitar dua orang anak.

Lebih lanjut, Sonny menjelaskan bahwa perubahan cara pandang masyarakat terhadap perencanaan keluarga membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Baca Juga: Kalender Event Indonesia 2026-2027 Resmi Dirilis, Ini Daftar Konser, Festival, dan Ajang Olahraga Internasional

Oleh karena itu, manfaat program KB baru tampak jelas setelah berjalan selama sekitar dua dekade.

Di sisi lain, meskipun tingkat kelahiran terus menurun, populasi Indonesia tetap bertambah akibat fenomena *population momentum*, yaitu banyaknya penduduk yang secara bersamaan memasuki usia produktif dan reproduksi.

Menurut Sonny, masyarakat yang lahir setelah tahun 1990 umumnya tetap mempertahankan pola keluarga kecil karena nilai-nilai yang dibangun melalui program KB telah menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan masyarakat.

Ia juga menilai bahwa penurunan angka kelahiran tidak hanya dipengaruhi oleh keberhasilan program KB, tetapi juga oleh semakin baiknya layanan kesehatan.

Baca Juga: 50 Ide Jualan Menjelang 17 Agustus 2025 yang Berpotensi Cuan, Dari Dekorasi hingga Produk Digital

Pada masa lalu, tingginya risiko kematian bayi membuat banyak keluarga memilih memiliki lebih banyak anak sebagai langkah berjaga-jaga.

"Kondisinya sekarang sudah jauh berbeda. Akses terhadap layanan kesehatan, pemeriksaan kehamilan, hingga pelayanan ibu dan anak telah semakin baik bahkan menjangkau tingkat desa," kata Sonny.

Menurutnya, meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan membuat peluang anak untuk bertahan hidup jauh lebih tinggi.

Kondisi tersebut mendorong masyarakat merasa bahwa memiliki dua anak sudah cukup, sehingga keinginan untuk memiliki banyak anak seperti generasi terdahulu semakin berkurang.***