POJOKSATU.id - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus menunjukkan hasil positif.

Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah memanfaatkan layanan ini.

Angka tersebut bahkan melampaui target peserta mingguan yang ditetapkan selama enam bulan terakhir.

Tak hanya berfokus pada deteksi dini penyakit, program ini kini juga memasuki tahap pengobatan atau tatalaksana bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, khususnya hipertensi dan diabetes melitus.

Baca Juga: Ruas Tol Ini Berpotensi Naik Tarif pada 2026, Untuk Apa Sebenarnya Tarif Tol Digunakan?

Kementerian Kesehatan optimistis target 130 juta peserta hingga akhir 2026 tetap berada di jalur pencapaian seiring semakin meningkatnya jumlah masyarakat yang mengikuti pemeriksaan kesehatan setiap pekan.

Hasil CKG Ungkap Tantangan Kesehatan Berbeda di Setiap Usia
Data yang dihimpun selama enam bulan terakhir menunjukkan bahwa setiap kelompok usia memiliki persoalan kesehatan yang berbeda.

Mulai dari bayi baru lahir, balita dan pra sekolah, anak sekolah dan remaja, kelompok dewasa, hingga lansia memiliki risiko kesehatan yang perlu mendapat perhatian khusus.

Baca Juga: Ingin Daftar Sekolah Kedinasan 2026? Ini Syarat Tinggi Badan di STIN, IPDN, STMKG, dan Kemenhub

Bayi Baru Lahir Banyak Terindikasi Kelainan Jantung Bawaan

Pada kelompok bayi baru lahir, penyakit jantung bawaan kritis menjadi salah satu kondisi yang paling banyak ditemukan melalui skrining.

Hingga 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani pemeriksaan menggunakan metode pulse oximetry.

Dari jumlah tersebut, sekitar 4,3 persen atau 20.946 bayi terindikasi memiliki kelainan yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Balita Didominasi Masalah Gigi dan Imunisasi

Baca Juga: Ingin Daftar Sekolah Kedinasan 2026? Ini Syarat Tinggi Badan di STIN, IPDN, STMKG, dan Kemenhub

Pada kelompok balita dan anak pra sekolah, hasil CKG menemukan beberapa masalah kesehatan yang cukup sering terjadi.

Sebanyak 24 persen anak mengalami karies gigi, kemudian 9,7 persen memiliki riwayat imunisasi yang belum lengkap, sementara 9,1 persen anak usia dua tahun terdeteksi mengalami anemia.

Karena itu, orang tua diimbau rutin membawa anak mengikuti CKG setiap tahun agar kondisi kesehatan dapat dipantau sejak dini.

Anak Sekolah dan Remaja Mulai Hadapi Masalah Gizi Lebih

Kelompok anak sekolah dan remaja juga menunjukkan tantangan kesehatan yang tidak kalah besar.

Baca Juga: Kanye West Bakal Tampil di SUGBK Jakarta, Ini Jadwal Konser dan Benefit Tiket VIP

Masalah terbanyak masih didominasi karies gigi yang dialami lebih dari 40 persen peserta pemeriksaan.

Selain itu ditemukan anemia sebesar 27 persen, peningkatan tekanan darah 21 persen, penumpukan kotoran telinga 7 persen, serta gizi lebih dan obesitas 7 persen.

Data tersebut juga menunjukkan Indonesia kini menghadapi double burden of malnutrition, yaitu kondisi ketika gizi kurang dan gizi lebih terjadi secara bersamaan sehingga memerlukan perhatian yang sama seriusnya.

Dewasa dan Lansia Banyak Kurang Aktivitas Fisik

Baca Juga: Sejarah Kenaikan Materai di Indonesia, Dari Rp500 hingga Rp10.000

Pada kelompok usia dewasa, persoalan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah kurangnya aktivitas fisik yang dialami lebih dari 46 persen peserta.

Masalah lain yang cukup banyak ditemukan meliputi obesitas sentral sebesar 28 persen, karies gigi 27 persen, prehipertensi 12 persen, serta kebiasaan merokok 11 persen.

Sementara pada kelompok lansia, kurang aktivitas fisik juga menjadi masalah terbesar dengan angka mencapai 51 persen.

Disusul gigi hilang 44 persen, obesitas sentral 28 persen, prehipertensi 17 persen, dan hipertensi 16 persen.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Kutu Kasur yang Efektif, Ampuh hingga ke Telurnya

Pasien Hipertensi dan Diabetes Mulai Rasakan Manfaat Pengobatan
Program CKG kini tidak berhenti pada tahap skrining. Peserta yang telah didiagnosis hipertensi maupun diabetes melitus juga memperoleh layanan pengobatan lanjutan.

Data menunjukkan 35,4 persen pasien hipertensi yang terdiagnosis melalui CKG 2025 telah kembali menjalani pemeriksaan pada CKG 2026.

Dari jumlah tersebut, 46,9 persen berhasil mengendalikan tekanan darahnya setelah menjalani pengobatan secara rutin.

Sementara itu, hasil yang lebih baik terlihat pada pasien diabetes melitus.

Baca Juga: Cara Kerja Algoritma TikTok 2026, Ini Tips agar Konten Cepat Masuk FYP

Sebanyak 68,4 persen pasien yang kembali menjalani pemeriksaan berhasil mencapai pengendalian kadar gula darah.

Pemerintah menargetkan pada tahun ini sebanyak 50 persen penderita hipertensi dan diabetes menjalani pengobatan rutin.

Dari jumlah tersebut, setengahnya diharapkan mampu mencapai kondisi yang terkendali sehingga dapat membantu menekan risiko penyakit jantung maupun stroke.

Ke depan, Kementerian Kesehatan akan terus memperluas jangkauan Program Cek Kesehatan Gratis sekaligus memperkuat tindak lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan primer.

Baca Juga: Jangan Keliru, Logout dari Kredivo Tidak Sama dengan Menutup Akun

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan deteksi dini penyakit, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan pendampingan dan pengobatan yang berkelanjutan agar kualitas hidup semakin baik.

Menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan saat tubuh mulai sakit, tetapi juga melalui pemeriksaan rutin sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius. Semakin cepat masalah kesehatan diketahui, semakin besar pula peluang untuk hidup lebih sehat bersama keluarga di masa depan.***