POJOKSATU.id, JAKARTA— Juru Bicara PDI Perjuangan, Guntur Romli, mengatakan bahwa kepala yang diinjak Jokowi di acara di Lampung adalah kepala kerbau, bukan kepala banteng.
Sehingga menurutnya, anggapan yang menyatakan Jokowi menginjak kepala banteng di Lampung adalah tidak sesuai dengan fakta.
PDI Perjuangan (PDIP) menegaskan kepala hewan yang terlihat dalam foto Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang menginjak kepala hewan adalah kerbau, bukan banteng.
Menurutnya, banteng merupakan satwa yang dilindungi sehingga tidak mungkin dijadikan hewan kurban atau bagian dari ritual adat.
Baca Juga: Polisi Ungkap Sopir Truk Box Terobos Lampu Merah Unisma, Satu Tewas, Pria Inisial JRL Diamankan
"Karena pendukung Jokowi sedang berhalusinasi yang diinjak itu kepala banteng, padahal kerbau. Banteng itu satwa dilindungi, tidak bisa buat tumbal ritual atau kurban, berbeda dari kerbau yang merupakan hewan ternak," kata Guntur Romli, Senin, 29 Juni 2026.
Guntur bahkan menyebut kepala kerbau tersebut justru lebih tepat dimaknai sebagai simbol para pendukung Jokowi yang disebutnya sebagai "Termul" atau Ternak Mulyono.
"Sebenarnya kepala kerbau yang diinjak melambangkan para pengikut Jokowi dan PSI yang terbuai terhadap apa di balik perilaku raja. Kerbau bukan banteng. Kerbau adalah hewan ternak. Cocok dengan istilah 'Termul' atau Ternak Mulyono," ujarnya.
Baca Juga: Indonesia Diproyeksi Jadi Negara dengan Pertumbuhan Orang Super Kaya Tercepat di Dunia pada 2031
Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau
Diketahui, ritual Jokowi menginjak kepala kerbau di Lampung memantik tafsir politik bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mampu bersaing dengan PDIP.
PSI yang kini dibinanya siap menantang dan menumbangkan dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Poin menohok tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto.
Menurutnya, penggunaan simbol kepala kerbau yang diinjak kaki Jokowi dalam safari politiknya di Lampung itu tidak bisa dianggap sekadar prosesi adat biasa.
"Simbolis kepala kerbau yang digunakan dalam ritual dan identik dengan logo PDIP, banyak tafsir yang ingin Jokowi sampaikan," kata Hari, Minggu, 28 Juni 2026.
Hari menganalisis, dengan posisi baru Jokowi sebagai Dewan Pembina PSI, manuver teatrikal tersebut merupakan bentuk komunikasi politik tingkat tinggi terkait peta persaingan dengan partai besutan Megawati Soekarnoputri.
Secara vulgar, Hari mengibaratkan ritual tersebut seperti pertarungan antara kekuatan baru melawan sang petahana.***




