POJOKSATU.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal Indonesia hingga akhir Mei 2026 masih berada dalam kondisi yang sehat dan terkendali.
Meskipun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp180,4 triliun.
Defisit tersebut setara dengan 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan dinilai masih berada dalam batas aman sesuai target pemerintah.
Dalam paparan realisasi APBN Mei 2026 yang disampaikan pada Jumat, 05 Juni 2026, Purbaya mengungkapkan pendapatan negara telah mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6 persen dari target APBN tahun ini yang sebesar Rp3.153,6 triliun.
Baca Juga: Diduga Cemari Anak Sungai Cipatunjang, Satgas Citarum Harum Sidak PT IKK di Ciampel
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang justru mengalami kontraksi 12,9 persen.
"Realisasi APBN sampai dengan bulan Mei 2026 ini terus menunjukkan tren positif. Kita lihat pendapatan tumbuh 19,1%," ujar Purbaya dalam paparannya.
Penerimaan Pajak Melonjak
Menurut Purbaya, perbaikan paling signifikan berasal dari sektor penerimaan pajak yang berhasil mencatat pertumbuhan positif setelah tahun sebelumnya mengalami tekanan.
Hingga Mei 2026, penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun.
Angka tersebut berbalik arah dari kondisi lima bulan pertama tahun lalu yang masih mengalami kontraksi sebesar 11,3 persen.
"Yang paling menarik adalah pendapatan pajak naiknya 22,1%. Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak utamanya dibandingkan dengan kondisi tahun lalu," kata Purbaya.
Selain penerimaan pajak, sektor kepabeanan dan cukai juga menunjukkan kinerja positif dengan realisasi Rp123,8 triliun atau tumbuh 0,7 persen secara tahunan.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp226,4 triliun atau meningkat 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Hemat Biaya, Pemilihan Ketua RT 10 Plawad Digelar Sederhana
Purbaya menilai kinerja bea dan cukai mulai membaik setelah berhasil membukukan pertumbuhan positif selama dua bulan berturut-turut.
Belanja Negara Tumbuh Kuat
Dari sisi pengeluaran, pemerintah telah merealisasikan belanja negara sebesar Rp1.365,4 triliun atau setara 35,5 persen dari total pagu APBN 2026.
Jumlah tersebut meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan belanja terutama ditopang oleh peningkatan belanja kementerian dan lembaga yang mencapai Rp517,7 triliun atau tumbuh 58,9 persen.
Belanja non-kementerian/lembaga juga meningkat signifikan sebesar 47 persen menjadi Rp541,6 triliun.
Sedangkan transfer ke daerah tercatat sebesar Rp306,1 triliun atau mengalami penurunan 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Belanja negara tetap tumbuh. Artinya sesuai dengan target, kita selalu ingin mempercepat belanja," ujar Purbaya.
Surplus Primer Menguat
Selain mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat, posisi fiskal pemerintah juga ditopang oleh surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun.
Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang tercatat sebesar Rp28 triliun.
Baca Juga: Aturan MPLS 2026 Terbaru Terbit, Simak Ketentuan Lengkapnya
Keseimbangan primer merupakan indikator penting yang menunjukkan kemampuan pemerintah membiayai kewajiban di luar pembayaran bunga utang.
Menurut Purbaya, peningkatan surplus primer menjadi sinyal bahwa pengelolaan fiskal pemerintah masih berjalan sesuai rencana.
"Jadi kondisi fiskal amat baik," tegas Purbaya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons terhadap berbagai kekhawatiran pasar mengenai kondisi keuangan negara di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.***




