POJOKSATU.id, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menganalisa penyebab melemahnya IHSG dan ambruknya nilai tukar rupiah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 35,30% ke level 5.594,76 sepanjang 2026. Sementara pada perdagangan Jumat (5/6), nilai tukar rupiah menembus Rp18.036 per dolar AS.
Indeks saham turun signifikan setelah menyentuh level tertingginya pada posisi 9.100-an pada awal tahun.
Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi oleh sentimen negatif terhadap perekonomian domestik.
Baca Juga: Trump Klaim Iran Punya 22 Persen Rudal, Ini Penyebab Mereka Belum Sepakat Berdamai
Padahal secara fundamental, ia mengatakan ekonomi Indonesia tumbuh baik yang tercermin dari aktivitas perekonomian di banyak tempat.
"Jadi, kendala utama adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita ke mana-mana semuanya economic activity meningkat," ungkap Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Purbaya mengatakan, banyak pelaku pasar yang beranggapan ekonomi Indonesia akan hancur. Anggapan ini yang mendorong hilangnya kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.
"Ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh," jelasnya.
Baca Juga: Warga Gelar Kajian APBDes, Pemdes Japura Kidul Tak Hadir dan Dinilai Menghindari Klarifikasi
Meski begitu, Purbaya mengaku akan menghilangkan perspektif tersebut. Upaya ini akan dilakukan bersama Bank Indonesia (BI) sekaligus untuk menjaga nilai tukar rupiah.
Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah menyentuh Rp 18.036 hingga penutupan perdagangan, Jumat (5/6) kemarin.
"Itu (persepsi negatif) yang akan kita hilangkan dengan kerjasama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga sudah erat, cuma kita lebih eratin lagi," pungkasnya.
Sebagai informasi, IHSG selama perdagangan sepekan mengalami koreksi sebesar 8,69% sehingga ditutup pada level 5.594,765 pada Jumat (5/6) dari posisi 6.127,381 di pekan sebelumnya. Pada perdagangan tersebut, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 3,73 triliun, dan Rp 61,36 triliun sepanjang 2026.
Diketahui, IHSG memiliki kaitan yang sangat erat dengan nilai tukar Rupiah, di mana pergerakan keduanya sering kali berjalan searah.
Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS biasanya memicu penurunan IHSG, sementara penguatan Rupiah cenderung mendorong kenaikan IHSG.
Hubungan ini dipengaruhi oleh aktivitas investor asing, biaya impor perusahaan, dan kebijakan suku bunga.***




