BOGOR.POJOKSATU.id - Pada Kamis, 4 Juni 2026, rupiah anjlok menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat mencatat level terburuk sepanjang sejarah mata uang Garuda. Namun pelemahan ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia adalah hasil dari perjalanan panjang yang dimulai lebih dari dua tahun silam.
Kisah ini dimulai pada April 2024, ketika rupiah mulai memasuki zona Rp16.000 untuk pertama kalinya. Saat itu, kombinasi penguatan dolar AS dan sentimen risiko global mendorong tekanan terhadap mata uang Indonesia.
Pada akhir Mei 2024, kurs JISDOR Bank Indonesia mencatat angka Rp16.251 per dolar, sinyal awal bahwa fondasi Rp15.000-an sudah mulai retak.
"Kalau rupiah lemah berkepanjangan, kenaikan biaya akan diteruskan ke harga jual." Joshua, Pengamat Ekonomi, dikutip Katadata, Mei 2026.
Baca Juga: Nilai Barang Bukti Rp17,5 Miliar, Deretan Mobil Mewah Kasus Pemerasan Wamen Silmy Karim Buat Melongo
Memasuki penghujung 2025, tekanan semakin dalam. Rupiah menutup tahun di level Rp16.670 per dolar pada 31 Desember 2025.
Laju pelemahan kemudian semakin cepat sejak awal 2026: dari Rp16.680 di awal Januari, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.700–Rp16.900, lalu menembus Rp17.000 pada Januari 2026. Lonjakan ke level Rp17.800-an terjadi pada akhir Mei 2026, dan akhirnya Rp18.000 tertembus pada 4 Juni 2026.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah 2024–2026:
- Penguatan dolar AS akibat data ekonomi Amerika yang masih solid dan kebijakan suku bunga The Fed yang tidak segera longgar.
- Arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia, termasuk dampak penyesuaian indeks FTSE Russell dan MSCI.
- Revisi outlook Indonesia oleh Moody's dan Fitch menjadi negatif pada awal 2026, menambah tekanan persepsi risiko.
- Surplus perdagangan menyempit ke level terendah sejak 2020, mengurangi dukungan dari arus masuk ekspor.
- Cadangan devisa turun ke level terendah hampir dua tahun akibat intervensi intensif Bank Indonesia.
- Ketegangan geopolitik Timur Tengah yang memperkeruh sentimen pasar global.
Dampaknya langsung terasa di sektor riil. Para pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, mulai dari industri otomotif, farmasi, elektronik, hingga pangan yang menghadapi lonjakan biaya operasional yang tajam.
Nilai asumsi kurs dalam APBN 2026 yang dipatok di kisaran Rp16.500–Rp16.900 kini sudah jauh terlewati, memperbesar tekanan fiskal pemerintah.
Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk meredam volatilitas, namun cadangan devisa yang tergerus menjadi perhatian tersendiri. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) justru terpantau melemah saat rupiah menyentuh Rp18.000.
Baca Juga: Modus Lama Birokrasi di Kasus Korupsi Wamen Imipas Silmy Karim Raup Rp 100 Juta per Minggu
Artinya mengisyaratkan bahwa tekanan tidak sepenuhnya datang dari faktor eksternal, melainkan juga dari dinamika domestik yang kian kompleks.
Rupiah telah kehilangan sekitar 7,2% terhadap dolar sejak awal 2026. Menempatkannya di antara mata uang pasar berkembang yang paling tertekan tahun ini.
Pertanyaannya kini: seberapa dalam pelemahan ini akan berlanjut, dan apa yang bisa menghentikannya?***
