Judul:
IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Rupiah Tembus Rp17.900 per Dolar AS Bikin Investor Panik
Nama Penulis: Ai Nurmayanti
POJOKSATU.id - Pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan sesi I Rabu, 03 Juni 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hampir 5 persen di tengah kombinasi sentimen negatif dari pelemahan rupiah, penguatan dolar Amerika Serikat, hingga derasnya arus keluar dana asing dari pasar domestik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 305,94 poin atau turun 4,94 persen ke level 5.889,48 pada akhir sesi pertama perdagangan.
Penurunan tajam ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global dan tekanan yang terus menghantam nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Xiaomi 17T Series Resmi Meluncur di Indonesia, Kamera Leica 5x Kini Hadir di Semua Model
Rupiah Jadi Sorotan Utama
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau yang akrab disapa Didit menilai pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang memicu koreksi tajam IHSG.
Menurutnya, nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp17.900 per dolar AS membuat sentimen investor terhadap aset domestik semakin tertekan.
“Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini sudah mencapai 17.900,” kata Didit.
Melemahnya mata uang domestik biasanya meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dan prospek keuntungan perusahaan, terutama emiten yang memiliki kewajiban atau ketergantungan tinggi terhadap dolar AS.
Baca Juga: Google Minta Izin Lepas 32 Juta Nyamuk Aedes Aegypti, Tujuannya Justru Bikin Populasinya Menurun
Saham Konglomerasi Ikut Menekan Pasar
Selain faktor nilai tukar, Didit menjelaskan bahwa pergerakan IHSG juga terbebani oleh saham-saham konglomerasi yang sebelumnya mengalami lonjakan harga cukup tinggi.
Dalam dua hari terakhir, sejumlah saham konglomerasi bahkan sempat menyentuh Auto Reject Atas (ARA), sehingga aksi ambil untung atau profit taking menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan jual.
“Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami ARA,” ujarnya.
Baca Juga: Panduan Memilih Sekuritas untuk Membangun Portofolio Masa Depan
Secara teknikal, Didit menilai tren IHSG masih berada dalam jalur penurunan dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat.
“Pergerakan JCI masih berada di fase downtrend-nya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid,” ungkapnya.
Dolar AS dan Dana Asing Jadi Beban
Pandangan serupa disampaikan pengamat pasar modal Reydi Octa. Menurutnya, tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi global yang masih menantang.
Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, serta meningkatnya minat investor terhadap instrumen investasi yang dianggap lebih aman membuat pasar saham negara berkembang menghadapi tekanan besar.
Baca Juga: Modus Dadan Hindayana Raup Rp 1 Miliar Sehari, Pesan Televisi Segede Gaban hingga SPPG Rekayasa
“Pelemahan rupiah menurunkan minat investor terhadap aset berisiko sehingga memicu tekanan jual juga di pasar saham.
Di saat yang sama, arus keluar dana asing makin memperbesar tekanan jual IHSG,” kata Reydi.
Aksi jual investor asing yang terus berlangsung membuat tekanan terhadap pasar saham Indonesia semakin terasa dalam beberapa pekan terakhir.
Ketika dana asing keluar dari pasar domestik, likuiditas berkurang dan tekanan jual cenderung meningkat, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi incaran investor global.
Baca Juga: Jenis-Jenis Cuti Bagi PPPK Sesuai Aturan Terbaru, Lengkap dengan Syaratnya!
Pelaku Pasar Cermati Prospek Ekonomi
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan ekonomi nasional.
Menurut Reydi, investor saat ini sedang menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan, termasuk berbagai risiko yang dapat memengaruhi iklim investasi.
Kombinasi antara ketidakpastian global dan sejumlah tantangan domestik membuat investor memilih lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Baca Juga: Jadwal Resmi Pencairan Gaji ke-13 2026 untuk ASN dan Pensiunan, Cek Tanggal Lengkapnya!
Dalam kondisi seperti ini, volatilitas pasar diperkirakan masih akan cukup tinggi hingga muncul sentimen positif yang mampu mengembalikan kepercayaan investor.
Waspada Tekanan Jangka Pendek
Pelemahan IHSG yang terjadi pada sesi pertama perdagangan menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase sensitif terhadap berbagai perkembangan ekonomi dan keuangan global.
Pergerakan nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga internasional, serta arus modal asing akan menjadi faktor penting yang terus dipantau investor dalam beberapa waktu ke depan.
Selama tekanan-tekanan tersebut belum mereda, pasar saham Indonesia masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan dalam jangka pendek.***


.webp)

