POJOKSATU.id, PALEMBANG— Zulham Efendi Pulungan alias Maleh Pulungan (42) sudah 20 tahun bekerja sebagai kru bus ALS.
Terakhir Maleh ditunjuk sebagai sopir dua atau sopir cadangan bus ALS 346 jurusan Medan-Semarang yang ikut merenggut nyawanya pada Rabu (6/5) di Musi Rawas Utara, Sumsel.
Maleh sudah tiga tahun tak bersua dengan ayahnya Gusti Pulungan (66) yang merantau ke Bogor, Jabar.
Baca Juga: Identitas 16 Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS 346 vs Truk Tangki di Sumsel, Ada Bayi Usia 1,5 Tahun
Keluarga Maleh Pulungan aslinya dari Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal. Zulham sendiri merupakan anak sulung dari Gusti Pulungan.
Terakhir Ketemu Tiga Tahun Lalu
Gusti mengingat putra sulungnya ada sosok yang bertanggung jawab. Sejak lulus SMA tahun 2002 lalu, Maleh sudah mencari berbagai pekerjaan. Maleh lalu diterima bekerja sebagai kru bus ALS tahun 2006 lalu.
Sesudah bekerja di ALS, Maleh menikah dan kini dikarunia dua anak yang tinggal di Kota Medan.
Baca Juga: Gara-Gara Lubang Maut! Bus ALS Hantam Tangki Minyak di Musi Rawas Utara, 16 Nyawa Melayang Sia-sia!
Gusti sendiri jarang bertemu anaknya, terakhir ketemu tahun 2023 lalu.
“Kalau ketemu tiga tahun lalu, Maleh kebetulan lagi ada di Bogor, jadi ketemu di rumah makan dan makan bareng, itulah kenangan terakhir saya,” ujar Gusti kepada wartawan di tenda posko keluarga korban kecelakaan bus ALS di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, Jumat (8/5/2026).
Gundah Gulana Sepekan Ini
Sejak sepekan lalu, hati Gusti Pulungan, begitu gundah gulana. Setiap hari ia selalu teringat anak pertamanya itu.
“Nggak tau juga saya kenapa, seminggu ini ingat Maleh terus. Biasanya nggak, ini lagi makan keinget, pas tidur juga kebawa mimpi,” kata Gusti.
Dia mendapatkan kabar dari keluarganya yang di Lampung, bahwa mobil ALS yang ditumpangi Maleh mengalami kecelakaan di Kabupaten Musi Rawas Utara.
Rasa gundah Gusti itupun terjawab sudah. Ia langsung menangis bersama istrinya.
“Anaknya dua, kami sudah tiga tahun tidak komunikasi karena Maleh nggak ada HP. Dapat kabar langsung seperti ini,” ujar Gusti.
Saat ini, sampel DNA Gusti berupa urine dan air liur telah diambil oleh tim DVI untuk dilakukan proses identifikasi 16 jenazah korban kecelakaan bus ALS.
Ia berharap proses identifikasi bisa segera selesai sehingga Maleh bisa dimakamkan di Medan.***



.webp)
