POJOKSATU.id — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, akhirnya memberikan tanggapan terkait ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi perhatian publik hingga dilaporkan ke pihak kepolisian oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia.

Jusuf Kalla (JK) menjelaskan bahwa ceramah tersebut disampaikan dalam momentum bulan suci Ramadan dengan mengangkat tema utama mengenai perdamaian.

Ia hadir sebagai pembicara undangan untuk mengulas makna perdamaian dari berbagai perspektif.

Ia mengungkapkan bahwa dalam ceramah tersebut dirinya membahas beragam konflik yang pernah terjadi, baik di tingkat global maupun nasional.

Baca Juga: Makan Ikan Sapu-Sapu Aman atau Berbahaya, Ini Penjelasan Lengkapnya

Konflik internasional seperti yang terjadi di Eropa hingga Perang Dunia I juga turut dijelaskan. Selain itu, JK turut menguraikan sejumlah konflik di dalam negeri.

Mulai dari konflik ideologi di Madiun, konflik teritorial seperti di Timor Timur, hingga konflik berlatar ekonomi seperti yang terjadi di Aceh.

Ia menyebutkan bahwa seluruh konflik tersebut dipaparkan secara bertahap untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang dinamika konflik serta pentingnya menjaga perdamaian.

Dalam penyampaiannya, JK juga sempat menyinggung konflik di Ambon dan Poso.

Pada bagian inilah kemudian muncul potongan video yang menjadi polemik, khususnya terkait penggunaan istilah “mati syahid”.

Baca Juga: Reuni Wanna One 2026 Cuma Awal? Back to Base Jadi Sinyal Comeback Besar

JK kemudian meluruskan bahwa penggunaan istilah tersebut disesuaikan dengan konteks lokasi ceramah yang berlangsung di masjid.

Ia memilih kata “syahid” agar lebih mudah dipahami oleh jamaah yang hadir.

Ia menjelaskan bahwa apabila menggunakan istilah “martir”, dikhawatirkan tidak semua jamaah dapat menangkap maknanya.

Oleh karena itu, pemilihan kata tersebut semata-mata untuk mempermudah penyampaian pesan, bukan untuk memicu konflik.

Lebih lanjut, JK menegaskan bahwa inti dari ceramah tersebut justru mengajak masyarakat agar tidak menjadikan agama sebagai alat untuk berkonflik.

Ia juga menekankan bahwa apa yang disampaikannya bukanlah ajaran atau doktrin agama, melainkan penjelasan berdasarkan peristiwa nyata yang pernah terjadi.

Menanggapi tudingan penistaan agama, JK dengan tegas membantah hal tersebut.

Ia bahkan mengingatkan perannya dalam membantu mendamaikan konflik di Poso dan Ambon sebagai bukti komitmennya terhadap perdamaian.

Dalam keterangannya, JK juga menyinggung keberaniannya turun langsung ke wilayah konflik bersama sejumlah tokoh lain demi menghentikan pertikaian yang menurutnya bukan hal mudah untuk dilakukan.

Ia menegaskan bahwa seluruh upaya yang dilakukannya selama ini berfokus pada menciptakan perdamaian, bukan sebaliknya.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perhatian publik dan memicu perdebatan luas, terutama terkait konteks ceramah, penggunaan istilah, serta sensitivitas isu agama di ruang publik.***