POJOKSATU.id - Kasus dugaan penipuan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Seorang pedagang telur bernama Handri Yanti menjadi korban setelah mengalami kerugian mencapai Rp7.290.000 akibat ulah pria yang diduga menggunakan modus berpura-pura sebagai anggota TNI.
Peristiwa ini bermula saat pelaku datang ke toko korban yang berlokasi di Dusun Sindang Galih RT 01 RW 04, Desa Sindang Galih, Kecamatan Cimanggung.
Baca Juga: Perkuat Tata Kelola Aset Negara, KAI Daop 3 Cirebon Terus Akselerasi Sertifikasi Lahan
Pelaku memesan telur sebanyak 270 kilogram dengan total harga Rp7,29 juta.
Ia menjanjikan pembayaran akan dilakukan melalui transfer setelah barang tiba di lokasi tujuan.
Pelaku kemudian meminta telur diantar ke wilayah Kecamatan Pamulihan, tepatnya di Dusun Lapang RT 01 RW 06, Desa Haumgombong.
Baca Juga: Daftar Lengkap UKT dan IPI Universitas Udayana 2026 Jalur SNBT dan Mandiri, Semua Prodi Terbaru
Saat barang sampai, pelaku disambut oleh pihak di sekitar lokasi.
Korban menduga hal tersebut membuat situasi terlihat meyakinkan, terlebih pelaku mengenakan atribut menyerupai seragam TNI dengan pangkat tertentu.
Namun kecurigaan muncul ketika telur yang baru saja diturunkan langsung dipindahkan kembali ke dalam sebuah mobil.
Baca Juga: Waste to Energy Jambi Didorong, Solusi Strategis Pengelolaan Sampah
Mobil tersebut terlihat dengan warna putih jenis Honda CR-V yang diduga menggunakan nomor polisi bodong.
Tak berhenti di situ, pelaku juga mengaku bahwa telur tersebut akan digunakan untuk kegiatan bazar bagi panti jompo.
Ia kemudian meminta korban menuju Bank BRI Cimanggung untuk menemui seseorang bernama Ibu Ida yang disebut sebagai istrinya untuk proses pembayaran.
Namun setelah tiba di bank, korban tidak menemukan sosok yang dimaksud. Dari situlah korban menyadari telah menjadi korban penipuan.
Korban berharap aparat berwenang, baik dari kepolisian maupun institusi terkait, dapat menindaklanjuti kasus ini.
Baca Juga: Waste to Energy Jambi Didorong, Solusi Strategis Pengelolaan Sampah
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap modus serupa, terlebih jika pelaku mengatasnamakan instansi tertentu.
Hingga kini belum dapat dipastikan apakah pelaku benar anggota TNI atau hanya gadungan.***




