POJOKSATU.ID - Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi pada Sabtu (4/4/2026).
Dalam rentang waktu sejak dini hari hingga menjelang siang, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami sembilan kali erupsi.
Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, enam dari sembilan letusan tersebut terpantau secara visual.
Baca Juga: Dua Pesawat Tempur AS Jatuh Ditembak Iran, Trump Enggan Bahas Rincian Operasi Penyelamatan
Kolom abu yang dikeluarkan bahkan mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak kawah.
Sementara itu, tiga erupsi lainnya tidak dapat diamati secara langsung lantaran area puncak tertutup kabut tebal. Meski begitu, aktivitas vulkanik tetap terdeteksi melalui alat pemantauan.
Petugas PPGA Semeru, Liswanto, menyebut salah satu erupsi terjadi pada pukul 05.19 WIB dengan tinggi kolom abu yang cukup signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas Semeru masih fluktuatif dan perlu diwaspadai.
Di sisi lain, Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait dampak kerusakan akibat erupsi tersebut.
Namun, ia mengingatkan potensi hujan abu tetap ada, terutama di wilayah yang berada di jalur arah angin.
Menurutnya, jika melihat arah hembusan angin yang cenderung ke selatan hingga barat, kawasan Kecamatan Pronojiwo berpotensi terdampak hujan abu vulkanik.
“Untuk sementara laporan dampak belum ada, tapi kemungkinan hujan abu bisa terjadi di sekitar Pronojiwo,” ujarnya.
Saat ini, status Gunung Semeru masih berada di Level III atau Siaga. Dengan intensitas erupsi yang masih cukup tinggi, risiko bencana lanjutan seperti awan panas guguran, lava, hingga banjir lahar tetap perlu diantisipasi.
Terlebih, kondisi cuaca di sekitar gunung yang kerap diguyur hujan deras dapat memicu aliran lahar yang membawa material vulkanik dari puncak.
BPBD mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di sektor tenggara, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak.
Warga juga diminta menjauhi area sungai dalam jarak 500 meter untuk menghindari potensi bahaya.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa aktivitas Gunung Semeru masih sangat dinamis dan membutuhkan kewaspadaan tinggi dari masyarakat sekitar.***




