POJOKSATU.id – Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengungkap cerita menarik di balik proses dirinya bisa menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo pada Pilkada DKI Jakarta 2012.
Dalam sebuah Podcast Ruang Sahabat bersama Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Ahok menceritakan bahwa namanya sebenarnya bukan kandidat kuat pada awal proses penjaringan calon.
Ia bahkan mengaku berada di posisi paling bawah dalam survei calon yang dipertimbangkan saat itu.
Baca Juga: Pantat Kuda
“Saya paling bawah. Dari 12 nama survei itu saya paling bawah,” kata Ahok dikutip Pojoksatu.id dari Youtube Mahfud MD Official.
Meski berada di posisi terbawah, Ahok mengaku heran karena namanya justru terus muncul dalam daftar kandidat yang diajukan.
Ia kemudian mengetahui bahwa namanya beberapa kali diminta untuk dinaikkan dalam daftar tersebut.
Baca Juga: Penarik Becak di Cirebon Terima Rp1,4 Juta, Siap Libur 14 Hari Saat Arus Mudik
“Setiap kali mau dibuang tiga ada dua, Pak Jokowi minta saya naikin,” ungkap Ahok.
Menurut Ahok, situasi itu terjadi ketika sejumlah nama calon diseleksi untuk diajukan kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Saat itu sejumlah nama lain yang disebut lebih populer juga masuk dalam daftar.
Namun secara perlahan posisinya justru terus naik hingga akhirnya ikut dipertimbangkan sebagai calon wakil gubernur.
Baca Juga: 5.000 Sopir Angkutan Tradisional di Jabar Terima Kompensasi Rp1,4 Juta Selama Pembatasan Mudik
Ahok bahkan sempat merasa dirinya tidak memiliki peluang besar dalam kontestasi tersebut.
Ia menyebut latar belakang dirinya yang merupakan keturunan Tionghoa dan beragama Kristen membuat banyak orang menilai peluangnya sangat kecil.
“Saya pasti kartu mati dong Pak. Sudah Chinese turunan, Kristen, bukan Betawi, enggak ada duit,” ujarnya.
Namun pada akhirnya keputusan politik berkata lain. Namanya justru dipilih dan berpasangan dengan Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta.
Baca Juga: Penarik Becak di Cirebon Terima Rp1,4 Juta, Siap Libur 14 Hari Saat Arus Mudik
Pasangan ini kemudian memenangkan kontestasi tersebut dan memimpin Jakarta, sebelum Jokowi melanjutkan karier politiknya hingga menjadi Presiden RI.***




