POJOKSATU.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia blak-blakan mengungkap kondisi ketahanan energi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor minyak.

Hal tersebut disampaikan Bahlil saat menjelaskan perbandingan antara produksi minyak dalam negeri dan kebutuhan konsumsi nasional.

Menurutnya, produksi minyak Indonesia saat ini masih jauh di bawah kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Heboh Stok BBM Disebut Tinggal 23 Hari, Bahlil Akhirnya Buka Suara: Jangan Dipelintir!

“Produksi minyak kita di 2025 dan sekarang itu 605 ribu barel per day,” kata Bahlil, dikutip Pojoksatu.id dari Youtube ESDM.

Sementara itu, konsumsi minyak nasional jauh lebih besar.

Kebutuhan energi untuk transportasi hingga industri membuat permintaan minyak terus meningkat setiap tahun.

“Kalau konsumsi kita itu 1,6 juta barel per day,” ujarnya.

Baca Juga: Heboh Stok BBM Disebut Tinggal 23 Hari, Bahlil Akhirnya Buka Suara: Jangan Dipelintir!

Dengan kondisi tersebut, Indonesia terpaksa menutup kekurangan pasokan melalui impor minyak dari berbagai negara.

“Berarti kita itu impor sekitar 1 juta barel per day,” jelas Bahlil.

Ia menambahkan, impor tersebut tidak hanya berupa produk BBM jadi, tetapi juga minyak mentah yang kemudian diolah di kilang dalam negeri.

Baca Juga: Heboh di Pelabuhan Ketapang! Kapal Portlink VII Terbakar Saat Siap Berlayar ke Bali, Api Muncul dari Dek Kapal

Sebagian minyak mentah yang diimpor berasal dari kawasan Timur Tengah, Afrika hingga Amerika.

Namun pemerintah kini mulai melakukan diversifikasi sumber impor energi untuk mengurangi risiko gangguan pasokan global.

Terutama akibat konflik geopolitik yang terjadi di sejumlah wilayah penghasil minyak dunia.

Di sisi lain pemerintah juga mendorong berbagai strategi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Baca Juga: Harapan dan Doa Mantan Menag Quraish Shihab untuk Presiden Prabowo!

Mulai dari peningkatan produksi, pembangunan kilang, hingga pengembangan energi baru terbarukan.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dalam jangka panjang.***