POJOKSATU.id – Ramadan hampir memasuki pertengahan. Namun bagi ribuan penyintas banjir dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Utara, bulan puasa tahun ini masih dijalani di bawah terpal pengungsian.
Alih-alih bersiap menyambut Idul Fitri di rumah, mereka justru menunggu kejelasan hunian sementara (huntara) yang hingga kini belum seluruhnya tersedia.
Huntara Tahap Pertama Belum Selesai
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, terdapat sekitar 5.269 kepala keluarga atau 19.236 jiwa yang masih tersebar di 94 titik pengungsian.
Baca Juga: Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026, Kapolri Beberkan Jam-jam Rawan Kecelakaan
Khusus di Kecamatan Sawang, jumlah pengungsi mencapai 609 KK atau 2.155 jiwa. Sementara target pembangunan huntara tahap pertama ditetapkan sebanyak 241 unit.
Namun realisasinya belum sepenuhnya rampung.
Di Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, misalnya, hanya 40 unit huntara tahap pertama yang sedang dibangun dan belum seluruhnya selesai. Sisanya, warga masih menunggu kepastian.
BPBD menyebut kendala lahan menjadi salah satu faktor yang memperlambat proses pembangunan hunian tersebut.
Baca Juga: Pendaftaran Mudik Gratis Lebaran 2026 Bersama Pemko Medan Sudah Capai Kuota
Ramadan di Bawah Terpal
Sementara proses pembangunan berjalan, warga harus bertahan di tenda yang kondisinya jauh dari ideal.
Saat siang, suhu di dalam tenda terasa menyengat. Malam hari, hawa dingin menusuk. Situasi semakin berat ketika hujan turun.
Dalam sebuah video yang diunggah relawan Aceh pada Senin, 2 Maret 2026, terlihat warga di Lhok Pungki harus kembali menyelamatkan barang-barang mereka saat hujan mengguyur.
Air menggenang di bawah terpal, membuat mereka sulit beristirahat.
“Bagi kita hujan mungkin rahmat, tapi bagi mereka yang tinggal di tenda adalah bencana,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Lhok Pungki, Dusun yang Nyaris Hilang
Dusun Lhok Pungki menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Sekitar 489 jiwa terdampak langsung ketika banjir melanda sejak 22 November 2025, sebelum bencana besar disertai longsor menghantam sejumlah wilayah Aceh pada 26 November 2025.
Baca Juga: SKTP Februari Belum Terbit, Maret Sudah Dipercepat? Ini Penjelasan Kenapa Jalur Validasi Berbeda
Sebagian besar rumah hanyut atau rusak berat. Hingga kini, kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih.
Mendesak Percepatan Penanganan
Memasuki pekan kedua Ramadan, kebutuhan akan hunian yang layak menjadi semakin mendesak.
Warga berharap pembangunan huntara dapat dipercepat agar mereka tidak lagi harus menjalani puasa dan menyambut Lebaran dalam kondisi serba terbatas.
Baca Juga: Mengulik Prospek Perumahan Serpong yang Terus Berkembang
Di sisi lain, pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan penyediaan lahan, anggaran, serta percepatan administrasi.
Ramadan tahun ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali fisik bangunan, tetapi juga memulihkan martabat dan kenyamanan hidup para penyintas. ***




