POJOKSATU.ID - Video pengembalian ratusan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh SMPN 01 Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, viral di media sosial.

Dalam rekaman yang beredar, terlihat bingkisan makanan kering berbungkus biru dikembalikan kepada petugas pengantar dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tayu Kulon, Kamis (27/02/2026).

Aksi tersebut memicu beragam reaksi warganet. Banyak yang mempertanyakan kualitas menu yang disalurkan dalam program unggulan pemerintah tersebut.

Baca Juga: Usulan Gaji PPPK Paruh Waktu Rp2,1 Juta Kandas! DPRD Ketok Palu di Nominal Ini, Jangan Kaget

Saat dikonfirmasi, Kepala SMPN 01 Tayu, Sri Wahyuni, membenarkan adanya pengembalian paket MBG tersebut.

Namun ia menegaskan bahwa pihak sekolah tidak menolak program Makan Bergizi Gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, keputusan mengembalikan makanan semata-mata karena menu yang diterima dinilai belum memenuhi standar gizi yang diharapkan untuk siswa.

Baca Juga: Viral Dugaan Pungli Oknum Dishub Medan, Sopir Pikap Diminta Rp500 Ribu

“Kami tidak menolak programnya. Ini program yang sangat baik untuk anak-anak. Hanya saja menu yang datang diduga belum sesuai standar gizi,” ujar Sri Wahyuni saat dikonfirmasi, dikutip dari instagram @andreli_48.

Dalam video yang viral, tampak ratusan paket makanan tersusun sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada pihak pengantar.

Menu yang dikembalikan disebut berupa makanan kering yang dinilai kurang memenuhi komposisi gizi seimbang bagi kebutuhan pelajar.

Baca Juga: DPP PDIP Tegas! Haramkan Kader Main Proyek Dapur MBG, Tak Boleh Komersialisasi Program Rakyat

Program MBG sendiri merupakan program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas asupan gizi siswa di sekolah.

Karena itu, standar mutu dan kandungan gizi menjadi aspek penting dalam pelaksanaannya.

Pihak sekolah berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara agar pengawasan kualitas menu dapat diperketat.

Sri Wahyuni menegaskan, langkah tersebut diambil demi memastikan siswa mendapatkan makanan yang benar-benar layak dan bernutrisi.

Ia juga berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap temuan di lapangan.

Baca Juga: Butuh Rp37,4 Triliun untuk Percepat e-Government, Luhut Sentil Polemik: Beli Mobil Bisa, Masa Server Tidak?

Evaluasi menyeluruh dinilai penting agar program yang digulirkan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

“Harapannya ada pengawasan khusus agar program ini benar-benar berhasil dan sesuai dengan tujuan awalnya,” tambahnya.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Tayu Kulon terkait alasan detail menu tersebut dinilai tidak memenuhi standar.

Baca Juga: Dari Konten ke Kepercayaan Diri, Perjalanan Saya sebagai Media Sosial Spesialis di Program MagangHub PT Pojoksatu Indonesia

Namun kasus ini kembali menyoroti pentingnya kontrol kualitas dalam distribusi MBG di berbagai daerah.

Peristiwa di Tayu ini menambah daftar evaluasi pelaksanaan MBG di sejumlah wilayah. Publik pun berharap program strategis ini tetap berjalan optimal tanpa mengorbankan standar gizi yang menjadi tujuan utamanya.***