POJOKSATU.id, Bogor — Komitmen keberlanjutan tak hanya diwujudkan melalui praktik pertambangan yang taat regulasi, tetapi juga lewat penguatan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar tambang.
Itulah yang dijalankan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) melalui beragam program inovasi sosial di wilayah operasionalnya, termasuk di Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Emas Pongkor.
Sebagai perusahaan yang mengedepankan prinsip good mining practice dan operation excellence, ANTAM memastikan setiap lini bisnis berjalan sesuai aturan.
Namun lebih dari itu, perusahaan juga mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam bentuk program pemberdayaan yang menyasar kemandirian masyarakat.
Sekretaris Perusahaan ANTAM, Wisnu Danandi Haryanto, menegaskan bahwa inovasi sosial menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat.
“Kami terus menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan warga sekitar tambang. Bersama masyarakat, kami menginisiasi dan mengimplementasikan program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan perekonomian lokal,” ujarnya.
Di UBP Emas Pongkor, langkah pemberdayaan telah dimulai sejak beberapa tahun lalu.
Salah satu fondasinya adalah Program Cikal Tangkal (Ciguha Kampung Lestari Tanggung Kawal Lingkungan) di Desa Bantar Karet.
Program ini berfokus pada pemulihan kawasan dan penguatan kelembagaan masyarakat, dengan prioritas restorasi lingkungan dan membangun kembali kohesi sosial.
Inisiatif tersebut menjadi titik balik transformasi kawasan yang sebelumnya rentan menjadi lebih tertata dan produktif.
Penguatan berlanjut melalui Program Pepeling Cisangku di Desa Malasari.
Program ini mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pengembangan ekonomi lokal berbasis komunitas.
Pendekatan partisipatif diterapkan untuk meningkatkan kapasitas kelompok usaha, memperluas akses pasar, serta menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap usaha yang dijalankan.
Pada 2024, ANTAM juga mengembangkan Program Sundung Cisarua di Desa Cisarua.
Melalui sistem pertanian dan peternakan terintegrasi, program ini melibatkan pemuda, perempuan, dan kelompok rentan.
Hasilnya, terbuka peluang ekonomi yang lebih stabil dan legal, sekaligus memperkuat struktur sosial desa.
Salah satu program terbaru adalah Garitan Kalongliud di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
Program ini hadir sebagai respons atas bencana banjir dan longsor 2020 yang merusak infrastruktur irigasi dan melemahkan produktivitas pertanian warga.
Melalui model pertanian sirkular terpadu, Garitan Kalongliud memulihkan lahan tidur, meningkatkan efisiensi sistem irigasi, serta mengolah limbah lokal menjadi pupuk organik.
Pendekatan berbasis ekosistem ini berdampak pada kenaikan pendapatan kelompok tani dan penurunan biaya produksi.
“Program ini dirancang bukan sebagai bantuan jangka pendek, melainkan solusi sistemik untuk membangun kembali ekosistem pertanian desa yang produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” kata Wisnu.
Indeks kepuasan masyarakat terhadap program ini pun menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi, mencerminkan dampak nyata bagi warga.
Bagi ANTAM, keberlanjutan bukan sekadar memastikan aktivitas tambang berjalan bertanggung jawab.
Lebih dari itu, perusahaan menempatkannya sebagai komitmen jangka panjang untuk membangun desa yang tangguh, memiliki pilihan ekonomi sehat, dan mampu menghadapi berbagai tantangan secara mandiri.
Melalui sinergi antara praktik pertambangan berkelanjutan dan inovasi sosial berbasis kebutuhan lokal, ANTAM berupaya menghadirkan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.




