POJOKSATU.id - Masjid Raya Al Jabbar atau yang dikenal sebagai Masjid Al Jabbar Bandung kini menjadi ikon religi sekaligus destinasi wisata spiritual di Jawa Barat.

Masjid raya provinsi ini beralamat di Jalan Cimencrang No. 14, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung.

Lokasinya cukup strategis. Masjid ini berada dekat Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), kawasan Summarecon Bandung, Stasiun Cimekar, Mapolda Jabar, serta Kampus 2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sejarah Pembangunan Masjid Raya Al Jabbar
Pembangunan Masjid Raya Al Jabbar dimulai pada 2017.

Peletakan batu pertama dilakukan pada Jumat, 29 Desember 2017 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Ahmad Heryawan bersama Wakil Gubernur Deddy Mizwar.

Baca Juga: Masjid Jami’ Lasem, Jejak Syiar Islam Sejak 1588 M dan Makam Para Ulama Besar

Masjid ini kemudian rampung dan diresmikan pada Jumat, 30 Desember 2022 oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, yang juga menjadi arsitek dari masjid megah tersebut.

Nama “Al Jabbar” diambil dari salah satu Asmaul Husna yang berarti Maha Perkasa.

Nama tersebut juga memiliki keselarasan dengan akronim “Jabar” dari Jawa Barat.

Sebelum dikenal sebagai Masjid Raya Al Jabbar, masyarakat sempat menyebutnya “Masjid Terapung Gedebage” karena posisinya yang dikelilingi danau retensi, sehingga tampak seolah-olah terapung di atas air.

Luas dan Kapasitas Masjid
Secara keseluruhan, kompleks Masjid Raya Al Jabbar memiliki luas sekitar 25,8 hektar, mencakup area bangunan masjid, kolam retensi, plaza, ruang terbuka hijau, hingga area parkir.

Baca Juga: Apa Itu Reforma Agraria? Ini Dampaknya bagi Tanah dan Hak Warga

Bangunan masjid terdiri dari beberapa lantai dengan total kapasitas mencapai 60.000 jemaah, baik di dalam ruangan maupun di area plaza.

Untuk ruang utama di dalam masjid sendiri mampu menampung sekitar 33.000 jemaah.

Keunikan Arsitektur dan Filosofi
Masjid ini berdiri di atas danau retensi yang juga berfungsi sebagai pengendali banjir kawasan Gedebage.

Struktur utamanya menggunakan beton dan rangka baja bentang panjang dengan atap kaca serta panel aluminium.

Terdapat empat menara, dengan menara tertinggi mencapai 99 meter, melambangkan 99 Asmaul Husna.

Bangunan masjid dirancang dengan pendekatan rumus Al-Jabar, menghasilkan bentuk geometris setengah lingkaran yang modern dan ikonik.

Baca Juga: Pramono Tegas! Lapangan Padel Tanpa PBG di Jakarta Akan Dibongkar dan Izin Usaha Dicabut

Sentuhan khas Jawa Barat terlihat pada ornamen puncak atap berbentuk tusuk sate, terinspirasi dari Gedung Sate.

Selain itu, pada relung pintu terdapat motif batik dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Inspirasi desainnya juga mengadopsi gaya arsitektur masjid di Turki dan Iran, dengan halaman luas dan ruang terbuka yang nyaman untuk aktivitas ibadah maupun wisata religi.

Fasilitas Edukasi dan Wisata Religi
Masjid Raya Al Jabbar tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat edukasi.

Di bagian basement terdapat Galeri Rasulullah Saw yang menyajikan konten digital tentang sejarah Nabi Muhammad Saw, sejarah Islam dunia dan Indonesia, hingga mushaf khas Sundawi.

Baca Juga: BUMN Buka Rekrut Direksi WNA, Peluang Global atau Ancaman Talenta Lokal?

Fasilitas lainnya meliputi ma’rodh atau ruang pamer/museum ekshibisi, taman tematik 25 nabi dan rasul, plaza pandang dan plaza timur, area lanskap dan embung dan area bazar dan foodcourt.

Status pengelolaan masjid ini berada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), dengan Gubernur Jabar sebagai Ketua DKM ex officio.

Masjid Raya Al Jabbar bukan hanya simbol kemegahan arsitektur, tetapi juga cerminan semangat pembangunan spiritual dan peradaban di Jawa Barat.

Di tengah gemerlap modernitas, masjid ini hadir sebagai ruang hening yang mengajak setiap langkah untuk kembali pada nilai-nilai keimanan dan kebersamaan.***