POJOKSATU.id – Amerika Serikat akhirnya mengambil langkah yang mengguncang peta perdagangan global.
Setelah melalui pembahasan panjang, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump menyetujui skema yang membuka jalan bagi minyak sawit Indonesia masuk ke pasar AS tanpa dikenakan tarif.
Kebijakan ini menjadi sorotan dunia, sebab selama bertahun-tahun sawit RI menghadapi pembatasan ketat di berbagai negara, terutama di Eropa.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kesepakatan ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama dagang baru Indonesia–Amerika Serikat.
Yang memberikan fasilitas bea masuk nol persen untuk berbagai komoditas utama.
“Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen," ungkap Airlangga dikutip Pojoksatu.id dari liputan6 20/2/2026.
Tak hanya komoditas pertanian dan industri dasar, sektor tekstil Indonesia juga mendapat angin segar.
AS memutuskan memberikan pembebasan tarif melalui mekanisme tarif kuota.
“Khusus untuk produk tekstil dan aparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif 0 persen dengan mekanisme tarif rate quota atau TRQ," ujarnya.
Menurut Airlangga, kebijakan ini bukan sekadar perjanjian dagang di atas kertas. Dampaknya langsung menyentuh jutaan pekerja dalam negeri.
“Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," sambungnya.
Pembebasan tarif ini diperkirakan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia secara signifikan.
Pelaku industri menyambutnya sebagai peluang langka untuk memperluas pangsa pasar di Amerika, salah satu ekonomi terbesar dunia.
Dengan masuknya sawit RI tanpa hambatan tarif, posisi Indonesia dalam rantai pasok global diprediksi menguat.
Kesepakatan Prabowo–Trump ini bukan hanya soal perdagangan, tetapi simbol perubahan arah hubungan strategis kedua negara.***




