POJOKSATU.id - Ramadan 2026 menjadi ujian berat bagi para penyintas banjir dan tanah longsor di Aceh Tamiang.
Di tengah tenda pengungsian yang panas dan serba terbatas, para ibu tetap berusaha mengenalkan makna puasa kepada anak-anak mereka.
Rumah yang hancur akibat banjir besar pada akhir November 2025 memaksa ratusan keluarga bertahan di tenda darurat hingga memasuki bulan suci.
Baca Juga: Masjid Pink di Shiraz, Keajaiban Cahaya yang Bikin Hati Terpukau
Tahun ini, Ramadan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026 versi Muhammadiyah dan Kamis, 19 Februari 2026 berdasarkan hasil sidang isbat pemerintah.
Namun bagi warga pengungsian, perbedaan tanggal bukanlah persoalan utama. Yang lebih mendesak adalah bagaimana menjalani ibadah dalam kondisi serba kekurangan.
Belajar Puasa dari Balik Tenda
Curahan hati seorang ibu korban banjir dibagikan relawan melalui media sosial pada 17 Februari 2026. Dalam video singkat berdurasi 37 detik, ia menceritakan beratnya menjalani Ramadan tanpa rumah.
“Berat kali Ramadan kali ini, dengan kondisi mau ngajar anak bulan Ramadan tapi dengan kondisi rumah nggak ada, di tenda yang panas, yang terik,” ucapnya.
Meski demikian, ia tetap bertekad mengenalkan kewajiban puasa sejak dini kepada anak-anaknya.
“Dari kecil kita ajarkan dia untuk berpuasa kalau bulan Ramadan itu wajib, ngelatih,” tuturnya.
Di tengah panas tenda dan keterbatasan fasilitas, pendidikan iman tetap berjalan.
Baca Juga: Dihadiri Sejumlah Pejabat, Ibunda Wali Kota Bandung Muhammad Farhan Dimakamkan di Bogor
Tanpa Kulkas, Tanpa Dapur Tetap
Masalah lain muncul saat berbicara soal sahur dan berbuka. Sejumlah dapur umum yang sebelumnya aktif kini mulai berhenti beroperasi seiring berkurangnya relawan dan sebagian warga kembali ke rumah kerabat.
Seorang warga lainnya berharap dapur umum kembali diaktifkan selama Ramadan.
“Kita mengharapkan dapur umum. Kalau ingat itu, kami nggak sanggup,” ujarnya sambil menangis dalam video yang beredar 13 Februari 2026 lalu.
Tanpa kulkas dan peralatan memadai, warga tidak bisa menyimpan bahan makanan. Tidak ada lagi kebiasaan menyiapkan sahur sejak malam hari. Semua harus dimasak menjelang waktu makan agar tidak cepat basi.
Kondisi ini membuat beban fisik dan mental semakin berat, terutama bagi ibu-ibu yang mengurus anak kecil.
Ramadan dalam Bayang-bayang Pemulihan
Memasuki bulan suci, warga Aceh Tamiang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan rindu pada rumah yang belum bisa ditempati kembali.
Baca Juga: Kapolres Terlibat Narkoba, Mahfud MD Sebut Ini Masalah Lama, Sistem Komando Sudah Tidak Efektif!
Banjir dan longsor akhir November 2025 meninggalkan kerusakan luas. Hingga kini, proses pemulihan belum sepenuhnya selesai.
Di tengah keterbatasan itu, doa menjadi penguat.
“Kami minta doa untuk berikan kami kesabaran dan ketabahan. Kesehatan terutama untuk menyambut bulan Ramadan,” kata ibu tersebut.
Baca Juga: Mahfud MD Lagi-Lagi Vokal! Gaji Hakim Sudah Naik Ribuan Persen, Tapi Korupsi Makin Gila!
Ramadan yang biasanya identik dengan kebersamaan keluarga kini dijalani dalam suasana darurat. Namun semangat beribadah tetap bertahan, bahkan dari balik tenda pengungsian. ***




