POJOKSATU.ID - Pemerintah mulai menggeber kebijakan fiskal 2026 dengan fokus utama pada penciptaan lapangan kerja dan percepatan pertumbuhan ekonomi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan masyarakat, terutama generasi muda, tidak perlu khawatir soal peluang kerja di tahun depan.
Dalam konferensi Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I berada di kisaran 5,5 hingga 6 persen.
Target tersebut didorong oleh belanja negara yang agresif sejak awal tahun serta peningkatan investasi.
Menurutnya, belanja negara pada kuartal pertama 2026 diproyeksikan mencapai Rp809 triliun.
Anggaran tersebut akan digelontorkan untuk sejumlah program prioritas, termasuk percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN), serta rehabilitasi pascabencana di berbagai daerah.
Baca Juga: Jokowi Buka Suara Soal UU KPK, Setuju Kembali ke Aturan Lama dan Singgung Peran DPR Saat Revisi
Purbaya menilai, perputaran anggaran dalam jumlah besar pada awal tahun akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat, produksi sektor riil bergerak lebih cepat, dan penyerapan tenaga kerja ikut terdorong.
“Anak muda tidak usah khawatir, bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan akan lebih banyak lapangan kerja tercipta,” ujarnya optimistis, dikutip pojoksatu.id dari TVOneNews (14/2/2026).
Ia menambahkan, strategi belanja di awal tahun dirancang untuk menjaga momentum pertumbuhan sejak kuartal pertama.
Dengan konsumsi dan investasi yang tumbuh, sektor usaha diyakini akan lebih ekspansif dalam merekrut tenaga kerja baru.
Meski mendorong belanja secara agresif, pemerintah tetap menegaskan komitmen menjaga disiplin fiskal.
Purbaya memastikan defisit anggaran tetap berada di bawah batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain itu, pengelolaan utang negara disebut tetap terkendali dan dalam koridor yang stabil.
Kebijakan fiskal 2026 ini menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Dengan kombinasi belanja negara yang terarah dan pengelolaan fiskal yang hati-hati, pemerintah berharap stabilitas ekonomi tetap terjaga sekaligus membuka ruang kerja yang lebih luas bagi masyarakat.
Jika target pertumbuhan 5,5–6 persen tercapai di kuartal pertama, maka optimisme terhadap prospek ekonomi nasional sepanjang 2026 akan semakin kuat.
Baca Juga: Tarif Impor Indonesia ke AS Turun Drastis Jadi 19 Persen, Menko Airlangga Bantah Terkait BoP Gaza
Pemerintah pun berharap kebijakan ini mampu menjawab kekhawatiran publik terkait lapangan pekerjaan dan daya beli.***



