POJOKSATU.ID - Memasuki pertengahan Februari 2026, suasana menjelang bulan suci Ramadhan mulai terasa, tidak hanya dari persiapan ibadah tetapi juga dari pergerakan harga di pasar tradisional maupun swalayan.
Berdasarkan pantauan terkini, tren harga bahan pokok atau sembako mulai menunjukkan fluktuasi yang cukup dinamis.
Secara umum, harga beras medium saat ini masih bertahan di angka Rp13.500 hingga Rp14.800 per kilogram, sementara beras premium berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.500.
Meskipun stok dilaporkan aman oleh Bulog, tekanan permintaan musiman mulai memberikan dampak pada label harga di tingkat pengecer.
Komoditas yang paling mencolok kenaikannya saat ini adalah kelompok protein dan bumbu dapur.
Daging ayam ras kini dibanderol sekitar Rp36.000 hingga Rp40.000 per kilogram, diikuti oleh telur ayam yang fluktuatif di angka Rp30.000-an.
Kenaikan paling tajam terlihat pada cabai rawit merah yang menembus Rp80.000 per kilogram di beberapa daerah akibat faktor cuaca yang mengganggu distribusi.
Sementara itu, harga daging sapi mulai merangkak naik ke angka Rp150.000 per kilogram, sebuah pola tahunan yang dipicu oleh tradisi munggahan atau makan bersama keluarga sebelum memulai ibadah puasa.
Di sisi lain, harga minyak goreng dan gula pasir cenderung mengalami penyesuaian namun tetap terkendali.
Minyak Kita rata-rata dijual di angka Rp15.700 hingga Rp16.500 per liter, sedikit di atas HET lama namun masih terjangkau.
Gula pasir juga mengalami kenaikan tipis ke angka Rp18.500 per kilogram karena meningkatnya kebutuhan industri rumahan untuk pembuatan takjil dan kue kering.
Pemerintah sendiri memprediksi bahwa puncak kenaikan harga akan terjadi pada satu minggu sebelum Ramadhan, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying.
Untuk menyiasati kondisi ini, para ibu rumah tangga disarankan mulai mencicil pembelian bahan pokok yang bersifat tahan lama seperti minyak, gula, dan beras sejak dini.
Memanfaatkan program pangan murah atau operasi pasar yang digelar pemerintah daerah juga menjadi solusi cerdas untuk menjaga anggaran belanja tetap stabil. Dengan manajemen belanja yang baik.
Diharapkan masyarakat tetap bisa menyambut bulan suci dengan tenang tanpa harus terbebani oleh lonjakan harga pangan yang terlalu drastis.***




