POJOKSATU.id - Dua bulan pascabanjir besar, tenda-tenda pengungsian masih berdiri rapat di Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kabupaten Aceh Utara.

Terpal biru dan oranye menjadi atap sementara bagi ratusan warga yang kehilangan kampung halaman.

Di tengah ketidakpastian soal hunian tetap, satu pertanyaan terus menggema di antara para penyintas: sampai kapan mereka harus bertahan di pengungsian.

Di lokasi ini, Gerakan Anak Negeri hadir membawa bantuan seragam sekolah bagi anak-anak korban banjir. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pendidikan di tengah kondisi darurat.

Baca Juga: Mengintip Harta Lima Konglomerat yang Temui Prabowo di Hambalang, Ada yang Capai Rp500 Triliun!

"Semua warga di sini kampungnya sudah hilang. Mereka tidak punya rumah lagi," ujar Hazairin Sitepu, Penanggung Jawab Gerakan Anak Negeri, Rabu 11 Februari 2026.

Dusun Payarubek kini menjadi titik kumpul warga yang mengungsi dari wilayah dataran rendah ke kawasan yang lebih tinggi demi keselamatan.

Di sela-sela tenda pengungsian, anak-anak tampak berlarian tanpa seragam dan tanpa ruang belajar yang layak.

Meski demikian, semangat mereka sebagai anak-anak tidak sepenuhnya pudar, walau hidup berubah drastis dalam waktu singkat.

Baca Juga: Resmi Pemerintah Obral Diskon 30 Persen Tiket Transportasi Lebaran 2026 untuk Kereta Kapal dan Pesawat, Cek Jadwal di Sini

Para orang tua telah dua bulan bertahan di pengungsian sambil menanti realisasi pembangunan hunian sementara dari pemerintah.

Hazairin menyampaikan, harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka ingin tetap tinggal bersama dalam satu kawasan, satu kampung, dan tidak tercerai-berai dari struktur sosial yang selama ini mereka miliki.

Hazairin berharap pembagian seragam sekolah ini dapat memberikan sedikit kebahagian untuk anak-anak dan dapat menjadi senyum tipis untukpara orang tua yang lelah.

"Semoga ini bisa memberi sedikit kegembiraan, untuk anak-anak dan juga orang tuanya," kata Hazairin.

Ia menegaskan, seragam sekolah memang tidak mampu menghapus trauma akibat bencana.

Namun, seragam itu menjadi pengingat bahwa masa depan anak-anak tersebut belum ikut hanyut bersama banjir.

Bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Gerakan Anak Negeri untuk menyalurkan 1.000 seragam sekolah bagi anak-anak korban banjir di Aceh.

Distribusi telah dimulai dari Aceh Tamiang dan Aceh Utara, serta akan berlanjut ke Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah.

Baca Juga: Resmi Pemerintah Tetapkan WFA bagi Pekerja dan Buruh pada Ramadhan dan Lebaran 2026, Cek Daftarnya di Sini

Kolaborasi kemanusiaan ini turut melibatkan PMI Kabupaten Bogor.

Kepala Bidang Organisasi PMI Kabupaten Bogor, Didi, menyebut kerja sama lintas daerah ini sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap korban bencana.

"Kami sangat bersyukur bisa ikut mendukung kebutuhan para pengungsi. Data dan pendampingan dari Gerakan Anak Negeri membuat bantuan bisa tepat sasaran," ujarnya.

Bagi para relawan, bantuan ini bukan semata soal logistik, melainkan tentang kebersamaan dan empati. Dari Bogor dan Jawa Barat, kepedulian itu dititipkan untuk Aceh.

Baca Juga: Lagi dan Lagi Program MBG Disorot, Ratusan Siswa SMK di Sidikalang Alami Diare Massal Usai Santap Menu Sekolah

Di tengah tenda-tenda pengungsian, seragam sekolah menjadi simbol kecil bahwa anak-anak penyintas masih memiliki alasan untuk bermimpi, meski kampung halaman mereka telah hilang.***