POJOKSATU.ID - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena meluapkan kemarahan dan kekecewaannya atas meninggalnya YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Peristiwa tragis ini dinilai bukan sekadar kejadian biasa, melainkan alarm keras kegagalan kolektif pemerintah dan pranata sosial akibat kemiskinan ekstrem.

Teguran keras disampaikan Melki kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ngada dalam sebuah acara di Universitas Citra Bangsa, Kupang, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: Kuota KIP Kuliah 2026 Hanya 200 Ribu Penerima, Anggaran Rp15,3 T Fokus Prodi Ini, Simak!

Ia menegaskan bahwa kematian seorang anak karena keterbatasan ekonomi merupakan tamparan serius bagi seluruh pemangku kebijakan, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Menurut Melki, kasus ini menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir dalam melindungi warganya yang paling rentan.

Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai kegagalan bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga pranata sosial seperti lembaga agama dan adat yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi masyarakat miskin.

Baca Juga: SELAMAT! 111 Sanggahan PPPK KemenHAM Diterima, Cek Daftar Nama dan Unduh PDF Resminya Disini

Gubernur NTT itu mengaku terpukul dan merasa malu setelah menerima banyak pertanyaan dari pimpinan nasional terkait kasus tersebut.

Sejumlah menteri, anggota DPR, hingga tokoh nasional disebut menghubunginya dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di NTT hingga seorang anak meninggal dalam kondisi memprihatinkan.

Kekecewaan Melki semakin memuncak lantaran respons Pemerintah Kabupaten Ngada dinilai sangat lambat.

Baca Juga: Pengamanan Kebun Binatang Bandung Kondusif, 711 Satwa Terpantau Terawat

Ia mengaku telah berulang kali menghubungi pimpinan daerah setempat, namun tidak segera mendapatkan penjelasan memadai.

Karena itu, Melki akhirnya mengutus tim dari pemerintah provinsi untuk turun langsung ke lapangan guna memastikan kondisi keluarga korban.

Dalam pernyataannya, Melki menyebut kematian YBR sebagai peringatan keras bahwa kemiskinan masih menjadi persoalan nyata yang belum tertangani secara serius.

Ia menegaskan, jika persoalan seperti ini terus dianggap sepele, maka kepercayaan publik terhadap pemerintah akan semakin tergerus.

Melki juga menyinggung kemungkinan reaksi keras dari pemerintah pusat jika kasus serupa sampai lebih dulu diketahui Presiden.

Baca Juga: Alur Penarikan Data 15–20 Februari Menentukan Cair atau Tidaknya TPG, Ini Cara Guru Memastikan Datanya Terbaca Pusat

Ia menilai, kejadian ini seharusnya menjadi momentum bagi seluruh kepala daerah dan pejabat publik di NTT untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan sosial dan mekanisme perlindungan warga miskin.

Tak hanya soal penanganan administrasi, Melki meminta agar pemerintah daerah menunjukkan empati nyata kepada keluarga korban.

Ia menekankan pentingnya kehadiran resmi pemerintah dalam mendampingi keluarga, termasuk memastikan proses pemakaman dilakukan secara layak dan manusiawi.

Baca Juga: Info GTK Berubah Jelang Pencairan TPG Februari, Ini Penjelasan Normalisasi Sistem agar Guru Tidak Salah Tafsir Status

“Sebagai pemerintah, kita gagal jika ada warga negara meninggal karena kemiskinan seperti ini,” tegas Melki, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com.

Ia menutup pernyataannya dengan meminta seluruh pejabat daerah menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran serius agar tragedi serupa tidak kembali terulang di NTT.