POJOKSATU.id – Perdebatan soal GERD kembali pecah di media sosial setelah seorang dokter spesialis jantung menyampaikan bahwa asam lambung tidak menyebabkan serangan jantung.

Pernyataan tersebut justru memicu amarah sebagian netizen hingga sang dokter dihujani komentar bernada merendahkan, bahkan ada yang menyebutnya “bodoh”.

Kisruh ini bermula dari unggahan di platform X yang menyoroti pernyataan dokter kardiologi terkait perbedaan nyeri dada akibat GERD dan nyeri dada akibat penyakit jantung.

Baca Juga: TPG TW3 dan TW4 Belum Cair? Ini Penjelasan Resmi Dirjen GTK yang Bikin Guru Lega

Namun alih-alih dipahami sebagai edukasi kesehatan, pernyataan itu justru dianggap menentang keyakinan populer bahwa GERD bisa menyebabkan kematian mendadak.

Dikutip Pojoksatu.id dari Jawapos dan rujukan medis kredibel lainnya, para pakar menegaskan bahwa GERD adalah gangguan pencernaan di mana asam lambung naik ke esofagus.

Kondisi ini memang dapat menimbulkan nyeri dada yang terasa mirip keluhan jantung, tetapi tidak menjadi penyebab langsung serangan jantung.

Baca Juga: Ferry Irwandi Nilai Gaji Guru Honorer Amburadul akibat Salah Urus Pusat dan Daerah

Penjelasan tersebut juga sejalan dengan informasi Harvard Health yang membedakan jelas antara heartburn dan heart attack.

Beberapa penelitian medis internasional yang dirujuk dokter tersebut menunjukkan bahwa hubungan GERD dan penyakit jantung hanya bersifat korelasi, bukan sebab-akibat.

Artinya, adanya gejala GERD tidak otomatis meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung mendadak.

Baca Juga: TPG TW3 dan TW4 Belum Cair? Ini Penjelasan Resmi Dirjen GTK yang Bikin Guru Lega

Koreksi ilmiah inilah yang coba disampaikan dokter, namun sayangnya justru menimbulkan serangan komentar bernada kasar dari sebagian warganet.

Sejumlah tenaga kesehatan akhirnya ikut turun tangan meluruskan kesimpangsiuran informasi.

Mereka menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan gejala yang mirip tetapi berasal dari organ berbeda.

Edukasi ini penting agar publik tidak terjebak hoaks kesehatan yang mudah menyebar di media sosial.

Perdebatan ini menjadi cermin betapa kuatnya pengaruh opini daring terhadap isu kesehatan, bahkan ketika berhadapan dengan fakta ilmiah yang jelas.

Baca Juga: TPG TW3 dan TW4 Belum Cair? Ini Penjelasan Resmi Dirjen GTK yang Bikin Guru Lega

Para dokter mengingatkan masyarakat untuk mengutamakan rujukan medis tepercaya, bukan asumsi yang tidak berdasar.***