POJOKSATU.ID - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan analisis mendalam terkait situasi geopolitik global yang dinilainya semakin mengkhawatirkan.

Melalui akun Twitter pribadinya yang dikutip CNBC Indonesia, Senin (19/1/2026), SBY secara terbuka menyampaikan kecemasannya terhadap arah perkembangan dunia saat ini.

Mengawali analisisnya, SBY menegaskan bahwa pandangannya didasarkan pada pengalaman panjangnya mempelajari geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dunia dari abad ke abad.

Baca Juga: Tito Ingatkan Daerah: Dana Bencana Rp10,6 T untuk Aceh, Sumut, Sumbar Jangan Disalahgunakan

Ia juga mencermati secara serius dinamika global yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir.

“Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi,” tulis SBY, dikutip pojoksatu.id dari CNBC Indonesia.

Ia bahkan menyebut kemungkinan terjadinya prahara besar di tingkat global, termasuk ancaman Perang Dunia Ketiga.

Baca Juga: Contoh Soal Bahasa Indonesia Kelas 5 Semester 1, Lengkap dengan Kunci Jawaban

Menurut SBY, situasi dunia saat ini memiliki banyak kemiripan dengan kondisi menjelang pecahnya Perang Dunia Pertama dan Kedua.

Ia menyoroti munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang cenderung agresif, pembentukan aliansi negara-negara yang saling berhadap-hadapan, serta perlombaan pembangunan kekuatan militer secara masif.

“Termasuk penyiapan ekonomi perang dan mesin-mesin militernya. Geopolitik dunia benar-benar sedang panas,” ungkap SBY.

Baca Juga: Mubes IMHJB 2026, Tetapkan Ketua Umum Periode 2026–2029

Ia menambahkan, sejarah telah mencatat bahwa sebelum perang besar pecah, selalu ada tanda-tanda yang jelas.

Namun ironisnya, kesadaran kolektif dunia untuk mencegah bencana tersebut sering kali terlambat muncul.

“Bukan karena tanda-tandanya tidak terlihat, tetapi karena kepedulian dan langkah nyata untuk mencegah perang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh,” tulisnya.

Baca Juga: Sri Rahayu Dorong Desa Walahar Jadi Desa Wisata Unggulan Karawang

Meski demikian, SBY menegaskan dirinya masih percaya bahwa skenario paling mengerikan itu masih bisa dicegah.

Namun, ia mengingatkan bahwa ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin hari semakin menyempit.

Dalam refleksinya, SBY kembali mengutip pemikiran tokoh dunia Edmund Burke dan Albert Einstein.

Baca Juga: UPDATE! Skema PPPK Jadi PNS Masuk Tahap FINAL, Kini Menanti Pengumuman Presiden Prabowo

Intinya, kehancuran dunia bukan semata disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik memilih diam dan membiarkan kejahatan berkembang.

“Kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang,” tulis SBY, mengingatkan tanggung jawab moral para pemimpin dan masyarakat dunia.

Sebagai solusi, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil peran aktif.

Baca Juga: Korban Kedua Pesawat Jatuh Milik IAT Ditemukan di Kedalaman Jurang 500 Meter, Jenis Kelamin Perempuan

Ia mendorong digelarnya Sidang Umum PBB yang bersifat darurat atau Emergency UN General Assembly.

“Saran saya, PBB mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk secara serius. Agendanya adalah langkah nyata mencegah krisis global berskala besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru,” tegas SBY.

Pernyataan SBY ini kembali mengingatkan dunia bahwa ancaman perang global bukan sekadar wacana, melainkan risiko nyata yang membutuhkan kepemimpinan, keberanian, dan tindakan bersama.***