POJOKSATU.ID - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kembali mengingatkan makna dasar politik dalam pidatonya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDIP sekaligus pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I 2026 di Jakarta.

Megawati menegaskan, politik seharusnya menjadi alat pengabdian kepada rakyat, bukan sarana mengejar jabatan, popularitas, atau kepentingan pribadi.

Di hadapan jajaran pengurus, kader, dan simpatisan partai, Megawati menyampaikan bahwa politik memiliki tanggung jawab moral dan sejarah yang besar.

Baca Juga: BPJS PBI 2026, Syarat Terbaru, Cara Cek Status KIS, hingga Solusi Jika Nonaktif

Karena itu, setiap langkah politik harus dijalankan dengan kesadaran penuh akan dampaknya bagi rakyat, bukan sekadar demi kekuasaan.

“Seorang pejuang sejati tidak mengejar popularitas, melainkan tanggung jawab; tidak mencari pujian, melainkan pengabdian,” ujar Megawati, dikutip pojoksatu.id dari Liputan 6 (11/1/2026).

Menurut Megawati, politik yang kehilangan nilai moral akan membuat jarak antara pemimpin dan rakyat semakin lebar.

Baca Juga: Masih Nunggak Listrik? Ini Akibat Fatal Saat Ajukan Promo Tambah Daya PLN 2026

Ia menilai, tanpa moral dan etika, politik hanya akan melahirkan kepentingan sempit yang menjauh dari cita-cita keadilan sosial.

Megawati menekankan bahwa politik sejatinya berakar pada nilai gotong royong dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Nilai-nilai itulah yang, menurutnya, harus terus dijaga dan diperjuangkan oleh seluruh kader PDIP di tengah dinamika politik yang semakin kompetitif.

Baca Juga: LSPR Dorong Anyaman Bambu Buniayu Tangerang Tembus Pasa Internasional

Dalam pidatonya, Megawati juga mengingatkan para kader agar tidak terjebak pada ukuran-ukuran keberhasilan yang semu.

Ia menegaskan bahwa pencapaian politik tidak semestinya diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan dari sikap dan keberpihakan ketika dihadapkan pada persoalan kebenaran dan keadilan.

“Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya, di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji,” tegasnya.

Baca Juga: FANTASTIS! Anggaran Rp124 Miliar Disiapkan untuk Tunjangan ASN Jombang, Cair Bersamaan dengan Gaji Pokok

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa bagi Megawati, politik bukan sekadar arena perebutan kekuasaan, melainkan ruang pengabdian yang menuntut integritas dan keberanian moral.

Ia mengingatkan, kekuasaan tanpa nilai hanya akan melahirkan krisis kepercayaan publik.

Dalam konteks perjalanan PDIP, Megawati menilai partainya lahir dari sejarah panjang perjuangan rakyat.

Baca Juga: Gaji Januari Belum Cair, TPG Triwulan 4 Tertunda, Guru Hadapi Awal Tahun Tanpa Kepastian

Karena itu, kader PDIP dituntut untuk tetap setia pada nilai-nilai dasar perjuangan, termasuk keberpihakan pada wong cilik dan keadilan sosial.

Pidato Megawati tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi seluruh kader di tengah persaingan politik nasional yang kian dinamis.

Ia mengingatkan bahwa rakyat kini semakin kritis dan mampu menilai siapa yang benar-benar bekerja untuk kepentingan mereka.

Baca Juga: Satu Akun Bisa Pakai Promo Berapa Kali? Ini Aturan Voucher Tambah Daya PLN 2026

Dengan penegasan tersebut, Megawati berharap PDIP tetap konsisten menjadikan politik sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar alat untuk meraih kekuasaan.

Bagi Megawati, sejarah akan selalu mencatat sikap dan keberpihakan, bukan sekadar posisi atau jabatan yang pernah disandang.***