POJOKSATU.id - Media sosial kembali digegerkan oleh sebuah polemik panas yang menyeret nama Ade Bhakti.
Sosok yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (DAMKAR) Kota Semarang dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Camat Gajahmungkur.
Keributan ini mencuat setelah unggahan Ade mengenai penggunaan air PDAM untuk kebutuhan pemadaman kebakaran mendadak viral dan memicu perdebatan publik.
Isu bermula ketika beredar tangkapan layar yang menunjukkan pernyataan Ade Bhakti soal DAMKAR Semarang yang disebut-sebut menggunakan air PDAM untuk operasional pemadaman, namun dikenai biaya.
Informasi itu langsung memantik tanda tanya besar, terutama karena pihak PDAM Kota Semarang justru menegaskan hal sebaliknya melalui unggahan dan komentar di akun resmi mereka air PDAM untuk DAMKAR disebut gratis.
Kontradiksi dua pernyataan ini membuat warganet heboh. Banyak yang merasa ada kejanggalan dan miskomunikasi besar antara dua instansi pemerintah tersebut.
Baca Juga: Beasiswa LPDP 2026 Diperkirakan Dibuka Januari, Ini Jadwal Perkiraan dan Syarat Lengkapnya
Situasi semakin panas ketika Ade Bhakti mengunggah klarifikasi panjang bernada tegas yang membuat publik makin ramai memperbincangkannya.
Dalam unggahan itu, Ade menegur langsung admin akun resmi PDAM Kota Semarang.
“Yth. Admin Akun @pdamkotasemarang, Dengan tidak mengurangi rasa hormat…
Kalau tidak memahami konteks yang kami sampaikan dalam rapat tersebut, TOLONG DIAM!!!”
Baca Juga: TPG Cair Tapi Kok Berkurang? Ini Penjelasan Resmi Potongan PPh dan BPJS yang Wajib Dipahami Guru
Unggahan dengan tone keras itu langsung menyebar luas dan memicu gelombang komentar.
Ade menjelaskan bahwa ia hadir dalam rapat tersebut karena diundang oleh PDAM, untuk menyampaikan keresahan DAMKAR terkait pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, pihak PDAM salah memahami konteks pembahasan sehingga membuat pernyataan yang menimbulkan blunder di ruang publik.
“Kami hadir di forum rapat karena undangan PDAM, untuk menyampaikan apa yang menjadi keresahan kami dalam melayani masyarakat,” tulisnya.
Ia juga mengkritik keras respons PDAM yang dinilai justru memperkeruh suasana.
“Saya tegaskan… kalau belum memahami konteksnya, lebih baik diam daripada blunder,” tegasnya lagi.
Ade kemudian menyinggung soal standar pelayanan publik yang menurutnya selalu lebih tinggi dari kemampuan pemerintah untuk mengakomodirnya.
Ia menyarankan agar PDAM mengakui kekurangan dan segera memperbaiki kesalahan daripada membuat pembenaran yang tidak perlu.
Lebih jauh, Ade mengungkap bahwa DAMKAR telah membangun beberapa tandon air sejak akhir 2023.
Tandon ini, katanya, secara khusus berfungsi untuk mengisi mobil tangki pemadam dan memang dikenai charge tagihan. Ia menegaskan bahwa bukti-bukti tagihan tersebut ada.
“Bukti tagihan ada kok,” tulisnya sambil kembali meminta admin PDAM untuk bertanya jika belum memahami situasi.
“Yth. admin @pdamkotasemarang kalau belum jelas, tanya! Kalau belum paham, ngomong! Bukan seperti ini caranya”
Pernyataan keras ini membuat ruang diskusi di media sosial makin gaduh. Publik terbelah antara yang mendukung DAMKAR dan yang menilai PDAM lebih transparan.
Namun hingga kini, warganet masih dibuat menunggu karena pihak PDAM Kota Semarang belum memberikan klarifikasi lanjutan terkait pernyataan Ade.
Polemik ini pun masih terus menjadi perbincangan hangat, meninggalkan banyak tanda tanya besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.***




