POJOKSATU.id - Ruang rapat Komisi DPR mendadak gaduh. Beberapa anggota dewan spontan tertawa, sebagian lainnya saling pandang tak percaya.
Penyebabnya bukan kericuhan politik, melainkan komentar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang melontarkan sindiran tajam bernada candaan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Dalam rapat koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana yang digelar di Senayan.
Purbaya menanggapi curhatan KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak terkait minimnya dukungan BNPB ketika TNI turun langsung menangani bencana.
Baca Juga: Perayaan Malam Tahun Baru di Bunderan HI, Masyarakat Diimbau Pakai Transportasi Umum
Menurut Maruli, dukungan yang diberikan BNPB kepada prajurit di lapangan hanyalah uang makan.
Pernyataan itu sontak membuat Purbaya merespons dengan kalimat pendek namun memancing perhatian publik.
“Cuma makan doang? Pelit juga lu,” ujar Purbaya sambil menoleh ke arah perwakilan BNPB dilansir Tv Parlemen.
Baca Juga: Heboh Soal Tuduhan Intimidasi dan Pengeluaran Siswa PAUD, Berakhir Klarifikasi Ternyata Salah Paham
Ucapan itu disampaikan dengan gaya santai, tetapi langsung memancing gelak tawa ruangan dan viral setelah potongan videonya beredar.
Curhatan KSAD: TNI Turun Bencana, Dukungan Hanya Uang Makan
Momen tersebut bermula ketika KSAD Maruli menjelaskan pengalaman prajurit TNI dalam membantu penanganan bencana di beberapa daerah.
Baca Juga: Heboh Soal Tuduhan Intimidasi dan Pengeluaran Siswa PAUD, Berakhir Klarifikasi Ternyata Salah Paham
Ia menyebutkan bahwa ada kondisi di mana TNI tidak memperoleh dukungan logistik memadai selain konsumsi.
“Yang kami dapat ya hanya makan,” kata Maruli di rapat yang sama.
Hal ini disampaikan sebagai bagian dari evaluasi koordinasi lintas lembaga dalam operasi penanganan bencana.
Curhatan itu menjadi sorotan karena menunjukkan masih adanya ketidaksinkronan antara kebutuhan di lapangan dan mekanisme dukungan yang diberikan BNPB maupun kementerian terkait.
Sindiran Purbaya: Candaan, tapi Mengarah ke Masalah Serius
Meskipun bernada gurauan, komentar “pelit” yang dilontarkan Purbaya bukan tanpa konteks.
Ia menegaskan bahwa lembaga penanganan bencana tidak boleh bekerja setengah hati, apalagi jika menyangkut keselamatan warga.
Purbaya menekankan pentingnya percepatan realisasi Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan bencana.
Baca Juga: Perayaan Malam Tahun Baru di Bunderan HI, Masyarakat Diimbau Pakai Transportasi Umum
Dalam rapat, ia mengingatkan bahwa anggaran sebesar Rp 1,51 triliun harus dicairkan tepat waktu agar tidak hangus pada akhir tahun anggaran.
Jika anggaran tidak terserap, hal itu dapat memengaruhi alokasi pada tahun berikutnya.
Komentar itu meski disampaikan dengan gaya jenaka menunjukkan kekhawatiran Menkeu terhadap lambannya penyaluran anggaran.
Yang kerap menjadi hambatan utama di tengah kondisi darurat.
BNPB Kena Dua Kali, Menteri PU Ikut Tersentil
Tak berhenti di BNPB, Menkeu Purbaya juga sempat melontarkan sindiran ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Ia menyebut bahwa ada kegiatan penanganan infrastruktur pascabencana yang melibatkan TNI, tetapi yang diberikan sebagai dukungan tetap hanya “uang makan”.
Sindiran itu sebenarnya merupakan kritik lembut terhadap lemahnya koordinasi lintas lembaga dalam urusan pembiayaan tanggap darurat.
Purbaya menegaskan bahwa mekanisme dukungan harus lebih fleksibel dan responsif, terutama ketika TNI diminta bergerak cepat.
Potongan video ucapan “pelit” yang keluar dari Menkeu Purbaya langsung menyebar di berbagai platform media sosial.
Baca Juga: Perayaan Malam Tahun Baru di Bunderan HI, Masyarakat Diimbau Pakai Transportasi Umum
Banyak netizen yang menganggap momen tersebut lucu dan segar di tengah formalitas rapat DPR.
Namun, tidak sedikit pula yang menyoroti isu utamanya mengapa dukungan BNPB hanya sebatas konsumsi?
Diskusi publik berkembang menjadi kritik terhadap birokrasi penanganan bencana yang dinilai lambat dan kurang menyentuh kebutuhan lapangan.
Baca Juga: Banjir Renggut Nyawa, Mensos Umumkan Santunan Banjir Aceh dan Sumatera Korban Dihargai Rp15 Juta
Banyak komentar menegaskan bahwa TNI, yang berada di garis depan penanganan bencana, seharusnya mendapat dukungan logistik dan operasional yang lebih memadai.
Ucapan “pelit” dari Menkeu Purbaya mungkin terdengar sebagai gurauan spontan, tetapi kasus ini membuka diskusi lebih luas tentang penanganan bencana di Indonesia.
Baik BNPB maupun kementerian teknis lainnya didorong untuk memperbaiki mekanisme dukungan.
Memastikan prajurit dan tenaga lapangan mendapatkan fasilitas yang layak, serta mempercepat penyaluran anggaran darurat.
Pada akhirnya, gurauan itu menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak boleh setengah-setengah dan tidak boleh “pelit”.***




